Rabu, 13 Januari 2021

Penerapan Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayanan)

PENERAPAN SERVANT LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN PELAYANAN) PADA GENERAL MANAGER PT PLN (PERSERO) UIKL SULAWESI

 

 


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Pendidikan diploma empat (D-4) Program Studi Administrasi Bisnis

Politeknik Negeri Ujung Pandang

Oleh:

UCI

452 17 026

 

PROGRAM STUDI D-4 ADMINISTRASI BISNIS

JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

MAKASSAR

2020





BAB I    

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Kepemimpinan merupakan proses dalam memengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Pada umumnya proses memengaruhi ini dilakukan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya. Pemimpin memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena tidak hanya sebagai pemberi perintah akan tetapi juga sebagai penunjuk arah bagi orang-orang yang sedang ia pimpin. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Syafi’ie (2003:1), pemimpin adalah orang yang mempengaruhi pihak lain melaui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

Lebih lanjut Robert Kreither dan Angelo Kinicki dalam Nawawi (2006: 21) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi anggota untuk mencapai tujuan organisasi secara sukarela. Pengertian ini menekankan pada kemampuan pemimpin yang tidak memaksa dalam menggerakkan anggota organisasi agar melakukan pekerjaan/kegiatan yang terarah pada tujuan organisasi. Sejalan  dengan pengertian tersebut, Gibson dkk dalam Nawawi (2006: 21) mendefinisikan kepemimpinan adalah upaya menggunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan paksaan untuk bergerak mencapai tujuan organisasi harus dibangkitkan dari dalam dirinya sebagai penggerak yang disebut motivasi intrinsik. Pada dasarnya dalam proses memotivasi, seorang pemimpin harus mampu mengendalikan emosi dalam menghadapi para karyawan serta tidak memaksakan kehendak kepada bawahannya.

Dalam kehidupan sehari-hari kepemimpinan merupakan hal penting yang dibutuhkan manusia dalam beraktifitas. Dengan adanya seorang pemimpin maka segala aktivitas menjadi lebih terarah dan sistematis. Dalam sebuah organisasi bisnis maupun publik, keberadaan seorang pemimpin sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan organisasi. Keberhasilan bawahan dalam mengerjakan pekerjaannya sangat bergantung pada kemampuan pimpinan dalam mengarahkan dan memimpin organisasi tersebut. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk mengembangkan minat dan potensi orang-orang di sekitarnya menjadi lebih berkualitas, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Lebih lanjut Kartasasmita dalam Pasolong (2015: 18) menyatakan bahwa kepemimpinan sangat penting dan amat menentukan dalam kehidupan setiap bangsa, karena maju mundurnya masyarakat, jatuh bangunnya bangsa, ditentukan oleh pemimpinnya.

Pada dasarnya, kepemimpinan terdiri dari beberapa jenis yakni kepemimpinan pelayan, kepemimpinan birokrasi, kepemimpinan bisnis, kepemimpinan situasional dan kepemimpinan transaksiaonal. Gaya kepemimpinan ini merupakan suatu cara yang digunakan pemimpin dalam memengaruhi bawahannya. Masing-masing gaya kepemimpinan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan. Terkait hal tersebut tak jarang pemimpin menerapkan dua atau lebih gaya dalam kepemimpinannya yang bertujuan untuk mengembangkan potensi bawahan menjadi lebih baik.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau yang lebih dikenal dengan singkatan PLN merupakan tempat pendistribusian listrik yang dituntut untuk mampu melayani kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu unit induk perusahaan ini terdapat di wilayah Makassar yaitu PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi yang berfokus kepada penyediaan dan penyaluran Tenaga Listrik kepada masyarakat. Ketika pelayanan yang diberikan kurang baik atau bahkan sampai merugikan pelanggan, maka komplain atau protes menjadi pilihan utama masyarakat. Keluhan yang sering dilayangkan biasanya terkait dengan gangguan listrik yang berkepanjangan tanpa penanganan yang cepat, petugas PLN kurang ramah dalam memberikan pelayanan, sampai pada kesalahan petugas dalam menghitung meteran yang mengakibatkan kerugian materi pada masyarakat. Kesalahan-kesalahan tersebut bukanlah murni karena kelalaian para petugas PLN tetapi karena kurangnya arahan dan bimbingan serta pelayanan yang baik dari pimpinan. Creech dalam Pasolong (2015: 19), menjabarkan bahwa tidak ada kelompok kerja yang jelek, yang ada adalah pemimpin yang jelek. Selanjutnya Bennis & Nanus dalam Pasolong (1990:5),  mengatakan bahwa faktor kunci dan utama yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah kepemimpinan. Kurangnya kesadaaran pimpinan dalam memberikan pelayanan yang baik kepada bawahan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut diatas terjadi .

Model kepemimpinan pelayan merupakan tipe kepemimpinan yang mengedepankan untuk melayani pihak lain dengan rasa kasih dan tulus yang tumbuh dari dalam dirinya. Dengan menerapkan gaya kepemimpinan pelayan, potensi dan kemampuan para pengikut akan terus berkembang yang berujung pada keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya. Namun berbeda halnya dengan General Manager pada PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi. Setelah melakukan observasi awal, peneliti menemukan beberapa masalah yang terjadi di dalam perusahaan tersebut antara lain: Adanya gejala general manager kurang berkomunikasi kepada bawahan, pemimpin kurang mengapresiasi kerja karyawan serta kurang memberikan pelayanan yang baik kepada karyawan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis bermaksud mengangkat permasalahan di atas dalam sebuah judul skripsi “Penerapan Gaya Kepemimpinan Servant pada General Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi”.

 

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan masalah utama yang terkait dalam tulisan ini, yakni “Penerapan Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayanan) Pada General Manager Pt Pln (Persero) Uikl Sulawesi ?“

1.3    Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini yaitu dibatasi pada Gaya Kepemimpinan Servant (Pelayan) pada PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi. Alasan yang mendasari penulis menggunakan objek tersebut karena PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi merupakan perusahaan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat, sehingga pemimpin dalam organisasi tersebut seharusnya telah lebih dulu menerapkan gaya kepemimpinan melayani dalam organisasi yang ia pimpin.

1.4    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1.        Untuk mengetahui bagaimana hubungan kerja sama general manager dengan para pengikutya dalam organisasii

2.        Untuk mengetahui penerapan gaya kepemimpinan servant oleh general manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi.

1.5    Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini ialah:

1.    Sebagai salah satu syarat penyusunan skripsi untuk menyelesaikan Pendidikan Diplom IV Adminsitrasi Bisnis pada Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Ujung Pandang.

2.    Sebagai sarana dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca mengenai karakteristik gaya kepemimpinan servant.

3.    Sebagai bahan masukan bagi general manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi dalam penerapan gaya kepemimpinan servant.

4.    Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi sumber referensi untuk peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan topik Kepemimpinan Servant.


 

BAB II    

LANDASAN TEORI

2.1         Beberapa Definisi

2.1.1   Definisi Pemimpin

Pemimpin dalam bahasa inggris disebut leader yang mana kegiatannya disebut sebagai kepemimpinan atau leadership. Dari kata dasar leader berarti pemimpin dan akar katanya yaitu to lead yang mengandung beberapa arti yang saling erat berhubungan: bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat paling dulu, memelopori, mengarahkan fikiran-pendapat oorang lain, dan menggerakkan orang lain dalam pengaruhnya (Baharuddin & Umiarso, 2012:47).

.Untuk mencapai keberhasilan organisasi sangat  diperlukan adanya seorang pemimpin dan proses kepemimpinan. Hal ini diperlukan karena berbagai kegiatan yang hendak dilakukan oleh semua anggota harus senada dalam artian semua anggota harus bekerjasama dengan baik. Pemimpin merupakan orang-orang yang menentukan tujuan, motivasi dan tindakan kepada orang lain.

Pemimpin adalah orang yang memimpin baik dalam organisasi formal maupun non formal. Menurut Nawawi (2004:9), pemimpin adalah orang yang memimpin. Sedangkan pengertian pemimpin yang paling baru sebagai post modern dari Lantu (2007:29), menyatakan bahwa pemimpin adalah pelayan.

Lebih lanjut Kartono (2005: 51), mendeskripsikan pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Dari pernyataan tersebut sudah tergambar dengan jelas bahwa seorang pemimpin harusnya dapat menjadi panutan dan penggerak bagi bawahannya untuk melakukan suatu tugas tertentu. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Sudriamunawar (2006: 1) bahwa pemimpin adalah seorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.Syafi’ie (3003:1), mengatakan bahwa pemimpin adalah orang yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.

Dari beberapa pendapat para ahli, maka disimpulkan bahwa pemimpin adalah seorang yang memiliki keahlian serta kecakapan tertentu dalam kesehariannya yang mampu mongkoordinir serta memberi pengaruh bagi para bawahan dalam proses pencapaian tugas organisasi atau perusahaan.

2.1.2   Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan secara harfiah berasal dari kata pimpin. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, mombina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak aka setiap orang memupunyai kesamaan di dalam menjalankan kepemimpinannya.

Menurut Irham Fahmi (2017:1), “Kepemimpin merupakan suatu ilmu yang mengkaji secara komprehensif tentang bagaimana mengarahkan, mempengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas sesuai dengan perintah”.  Kemudian Sudarwan Danim (2004: 55), mengemukakan bahwa “Kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasikan dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang   tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.

Selanjutnya John D. Pfiffner & Robert Presthus (2017:15), juga mengemukakan pendapatnya yaitu “Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Robbins dalam Pasolong (2015: 4), menyatakan “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran”. Kemudian menurut Sutarto kepemimpin yaitu rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Maxwell dalam Pasolong (2015: 4), kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh pengikut. Lebih jaul Maxwell menjelaskan bahwa pemimpin terkemuka suatu kelompok tertentu mudah ditemukan, perhatikan saja orang-orang ketika mereka berkumpul. Kalau suatu persoalan harus diputuskan, siapa orang yang pandangannya tampak paling berharga, siapa yang paling diperhatikan, ketika persoalan dibicarakan? Siapa orang yang paling cepat disetujui oleh orang-orang lainnya?, yang paling penting, siapa yang paling diikuti oleh orang lainnya? Jawaban terhadap semua pertanyaan itu akan membantu untuk menentukan siapa pemimpin yang sesungguhnya dalam suatu kelompok.

Yukl dalam Pasolong (2015: 4) lebih lanjut menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa bagi para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau birokrasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan teamwork serta perolehan hubungan kerja sama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau birokrasi.

Nawawi (2006: 26), mengemukakan bahwa kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan/kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama.  Lebih lanjut Gernberg dalam Nawawi (2006: 24) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kunci untuk menciptakan kerja sama yang efektif dalam organisasi. Pengertian tersebut menekankan bahwa pemimpin perlu memiliki kemampuan dan kecerdasan yang relatif lebih baik dari anggota organisasinya untuk meyakinkannya mengkreasikan berbagai pendorong yang dapat menggerakkan anggota organisasinya melakukan kegitan/ pekerjaan yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Setelah membaca dan menelaah sejumlah definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan proses dalam menuntun, mengarahkan serta mempengaruhi para pengikut secara sadar untuk bekerja sama dalam merealisasikan tujuan serta harapan organisasi.

 

2.1.3   Kepemimpinan dan Manajemen

Hampir semua literatur manajemen memberikan rumusan yang jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan manajemen. Suatu rumusan yang sering dikemukakan ialah bahwa manajemen merupakan suatu proses pencapaian tujuan organisasi melalui usaha orang-orang lain. Dengaan demikian, manajer ialah orang yang senantiasa memikirkan kegiatan untuk mencapai suatu rujuan organisasi.

Kepemimpinan dan manajemen seringkali disama artikan oleh banyak orang begitupula pemimpin dan manajer. Walau demikian, antara keduanya memiliki pengertian yang berbeda dan perlu untuk diketahui serta dipahami pengertiannya. Pada hakikatnya kepemimpinan mempunyai pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan manajemen. Lebih lanjut Bennis dan Nanus dalam Yukl (2017: 07) berpendapat bahwa kepemimpinan dan manajemen berbeda secara kualitatif dan tidak dapat digunakan bersama-sama.

Menurut Gibson dkk dalam Nawawi (2006: 33), kepemimpinan adalah bagian manajemen, meskipun tidak secara keseluruha. Lebih lanjut Nawawi menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan membantu orang lain agar secara antusias menumukan tujuan. Bantuan itu merupakan faktor manusiawi (human factor) yang mengikat kebersamaan dalam sebuah kelompok yang memotivasi anggotanya dalam mencapai tujuan. Sedang manajemen adalah aktivitas yang mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian dan pengambilan keputusan sebagai kgiatan awal sampai pada pemimpin menggunakan kekuasaannya dalam memotivasi orang lain dan mengarahkannya pada pencapaian tujuan.

Selanjutnya Bennis dalam Nawawi (2006: 34), juga menjelaskan perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen sebagai berikut:

a.    Manajer adalah mengelola, pemimpin adalah memulai.

b.    Manajer tiruan, pemimpin orisinal.

c.    Manajer mempertahankan, pemimpin mengembangkan..

d.   Manajer berfokus pada sistem dan struktur, pemimpin berfokus pada orang.

e.    Manajer bergantung pada hasil pengawasan, pemimpin membangkitkan kepercayaan.

f.     Manajer memiliki pandangan jarak pendek, pemimpin memiliki perspektif jarak jauh.

g.    Manajer selalu berorientasi pada hasil akhir, pemimpin berorientasi pada masa depan.

h.    Manajer meniru, pemimpin memulai.

i.      Manajer menerima status qou, pemimpin menantangnya.

j.      Manajer melakukan dengan benar, pemimpin melakukan yang benar.

2.2    Peran Pemimpin

Pemimpin merupakan seseorang yang berani dalam mengambil sebuah keputusan dan mempunyai jiwa yang bijaksana serta dapat memimpin dalam pencapaian tujuan organisasi. Sebagai seorang pemimpin yang ideal sudah menjadi keharusan untuk mampu memahami serta menjadi pelopor dalam memotivasi anggotanya untuk bekerja lebih giat untuk hasil yang memuaskan. Pasolong (2015: 33), merumuskan ada lima peran pemimpin birokrasi yaitu sebagai berikut.

a.    Peran Pengambilan keputusan, yaitu pemimpin birokrsi sebagai top manager khususnya, memiliki kewenangan mengambil keputusan. Pengambilan keputusan merupakan pekerjaan manajerial yang berarti memutuskan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang melakukannya, dan kapan akan dilakukan. Dalam hal ini menetapkan sasaran, prioritas, strategi, struktur formal, alokasi sumber-sumber daya, pertunjukan tanggung jawab dan pengaturan kegiatan-kegiatan. Tujuannya adalah untuk memastikan pengorganisasian unit kerja yang efisien, koordinasi kegiatan-kegiatan, penggunaan sumber-sumber daya secara efsien, serta adaptasi kepada sebuah lingkungan yang berubah-ubah.

b.    Peran mempengaruhi, yaitu pemimpin birokrasi harus dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya, sehingga mau bekerja sama dalam merealisasikan suatu program kerja. Pemimpin birokrasi dapat mengembangkan berbagai teknik mempengaruhi bawahan dan ini sebenarnya mudah bagi pemimpinn birokrasi publik karena kewenangan atasan sangat tinggi.

c.    Peran memotivasi, yaitu berkaitan dengan pemberian dorongan kepada pegawai untuk bekerja lebih giat. Hubungan pengaruh dan motivasi adalah kalau peran mempengaruhi efektif, maka peran memotivasi akan lebih mudah dilakukan. Sebaliknya jika pemimpin tidak mampu menanamkan pengaruh terhadap bawahannya, maka sulit baginya untuk melakukan motivasi. Dalam memotivasi hendaknya pemimpin memahami benar-benar karakter bawahan yang berbeda kemampuan, pengetahuan dan perilaku.

d.   Peran antar pribadi, yaitu peran stratejik pada peran antar pribadi dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai pemimpin birokrasi, harus menampilkan perilaku yang baik dan benar seperti etos kerja yang tinggi, disiplin, dan sikap positif lainnya.

e.    Peran informasional, yaitu peran informasional yang dimiliki seorang pemimpin birokrasi sangat strategis, mengingat pemimpin birokrasi adalah pemegang kunci, khususnya informasi tentang birokrasi yang dipimpinnya. Kemampuan komunikasi sangatlah diperlukan oleh seorang pemimpin agar dapat menjadi komunikator yang efektif. Peran informasional adalah menjelaskan kepada bawahan menyangkut rencana-rencana kebijakan-kebijakan, serta harapan peran, dan instruksi tentang cara pekerjaan harus dilakukan, tanggung jawab bagi para bewahan atau anggota tim dan tujuan-tujuan kinerja dan otorisasi rencana tindakan untuk mencapainya.

2.3         Tugas dan Fungsi Kepemimpinan

2.3.1   Tugas Kepemimpinan

Tugas Kepemimpinan (leadership function), pada dasarnya meliputi dua bidang utama, yaitu pencapaian tujuan organisasi dan kekompakan orang yang dipimpinnya. Tugas yang berhubungan dengan kekompakan disebut relationship function. Keating dalam Pasolong (2015: 21), mengatakan bahwa tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kelompok yaitu:

1.    Memulai (initiating) yaitu usaha agar kelompok mulai kegiatan atau gerakan tertentu.

2.    Mengatur (regulating) yaitu tindakan untuk mengatur arah dan langah kegiatan kelompok.

3.    Memberitahu (informating) yaitu kegiatan memberi informasi, data, fakta, pendapat para anggota dan meminta dari mereka informasi, data, fakta, dan pendapat yang diperlukan.

4.    Mendukung (supporting) yaitu usaha untuk menerima gagasan, pendapat, usul dari bawah dan menyempurnakannya dengan menambah atau mengurangi untuk digunakan dalam rangka penyelesaian tugas bersama.

5.    Menilai (evaluating) yaitu tindakan untuk menguji gagasan yang muncul atau cara kerja yang diambil dengan menunjukkan konsekuensi-konsekuensinya dan untung ruginya.

6.    Menyimpulkan (summarizing) yaitu kegiatan untuk mengumpulkan dan merumuskan gagasan, pendapat dan usul yang muncul, menyingkat lalu menyimpulkanya sebagai landasan untuk memikirkan lebih lanjut.

Lebih lanjut Keating menjelaskan bahwa tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakan dalam kelompok antara lain, yaitu:

1.    Mendorong (encouraging) yaitu bersikap hangat, bersahabat menerima orang-orang.

2.    Mengungkapkan perasaan, (expresing feeling) yaitu tindakan menyatakan perasaan terhadap kerja dan kekompakan kelompok, seperti rasa puas, rasa senang, rasa bangga, dan ikut seperasaan dengan orang-orang yang dipimpinnya pada waktu mengalami kesulitan, kegagalan, dan lain-lain.

3.    Mendamaikan (harmonizing), yaitu tindakan mempertemukan dan mendamaikan pendapat-pendapat yang berbeda dan menurunkan orang-orang yang bersitegang satu sama lain.

4.    Mengalah (compromizing), yaitu kemampuan untuk mengubah dan menyesuaikan pendapat dan perasaan sendiri dengan pendapat perasaan orang-orang yang dipimpinnya.

5.    Memperlancar (gatekeeping), yaitu kesediaan membantu mempermudah keikutsertaan para anggota dalam kelompok, sehingga semua secara ikhlas menyumbangkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan.

6.    Memasang aturan main (setting standarts), yaitu tindakan menyampaikan atturan dan tata tertib yang membantu kehidupan kelompok.

2.3.2   Fungsi Kepemimpinan

Stoner dalam Pasolong (2015: 22),  menyatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah agar seseorang beroperasi secara efektif kelompok memerlukan seseorang untuk melakukan dua hal fungsi utama, yaitu ”Berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah dan Memelihara kelompok atau sosial, yaitu tindakan seperti menyelesaikan perselisihan dan memastikan bahwa individu merasa dihargai oleh kelompok”. Selanjutnya Hicks & Gullet dalam Pasolong (2015: 22), membagi delapan fungsi kepemimpinan, yaitu:

1.    Pemimpin sebagai penengah,

2.    Pemimpin sebagai penganjur,

3.    Pemimpin sebagai pemenuhan tujuan,

4.    Pemimpin sebagai katalisator,

5.    Pemimpin sebagai pemberi jaminan,

6.    Pemimpin sebagai yang mewakili,

7.    Pemimpin sebagai pembangkit semangat, dan

8.    Pemimpin sebagai pemuji.

Adapun secara umum fungsi pokok pemimpin dalam manajemen organisasi menurut Chaniago (2017: 3) terbagi dalam empat kategori, yaitu:

1)   Planning (Perencanaan)

Fungsi perencanaan bagi pemimpin dalam manajemen merupakan aktivitas yang berusaha memikirkan apa saja yang akan dikerjakannya, beberapa ukuran dan jumlahnya, siapa saja yang melaksanakan dan mengendalikannya, agar tujuan organisasi dapat dicapai. Perencanaan merupakan serangkaian kegiatan yang digunakan untuk menentukan arah kedepan (tujuan dan sasaran) dan cara untuk mencapai tujuan akhir yang dikehendaki.

2)   Organizing (Pengorganisasian)

Fungsi pengorganisasian bagi pemimpin sebagai suatu proses pembagian kerja melihat bahwa ada unsur-unsur yang saling berhubungan, yakni sekelompok orang atau individu, ada kerja sama, dan ada tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Interaksi akan terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Hubungan-hubungan ini terjadi karena sudah ada pembagian kerja yang jelas dalam suatu sistem. Kerja sama dalam suatu sistem yang teratur ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati bersama terhadap kendali dan arahan pemimpin.

Pengorganisasian merupakan suatu proses dalam mencapai tujuan dan sangat diperlukan oleh masyarakat, baik dalam bidang profit maupun jasa (pelayanan). Tujuan pengorganisasian akan tercapai bilamana tiap-tiap individu yang ada sadar akan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya sehingga pada akhirnya tujuan akan tercapai.

3)   Actuating / Leading (Kepemimpinan)

Fungsi Kepemimpinan bagi pemimpin adalah implementasi aransemen yang sudah disusun pemimpin melalui dukungan orang lain. Hal ini menyiratkan bahwa kepemimpinan berlangsung dalam interaksi antara pemimpin dan pengikut dalam situasi tertentu. Pada tataran yang lebih tinggi, kepemimpinan dapat dijabarkan sebagai serangkaian perilaku yang jarang dapat ditiru oleh kebanyakan orang. Di antara kedua pandangan ini terdapat hubungan yang khas dan unik di antara orang yang memimpin dan yang mengikuti.

4)   Controling (Pengawasan / Pengenfalian)

Fungsi pengendalian/ pengawasan bagi pemimpin adalah kemampuan pemimin dalam melakukan fungsi-fungsi pengendalian yaitu: Handoko dalam Chaniago (2017: 5) mendefinisikan pengendalian sebagai suatu proses untuk menjamin bahwa tujuan – tujuan organisasi dan manajemen dapat tercapai. Hal ini berarti berkenaan dengan cara-cara membuat kegiatan-kegiatan sesuai yang direncanakan.

Selanjutnya Nawawi (2006: 40), mengemukakan terdapat lima poin fungsi kepemiminan sebagaimana diuraikan dibawah ini.

1.    Fungsi Pengambil Keputusan

 Organisasi hanya akan bergerak secara dinamis apabila pemimpin memiliki kemampuan dalam melaksanakan yang akan atau harus dilaksanakan oleh anggota organisasinya. Keputusan-keputusan itu harus dibuat oleh pemimpin agar anggota organisasi dapat melaksanakan berbagai kegiatan atu pekerjaan sebagai tugas pokok organisasi dalam rangka mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi. Fungsi pengambilan keputusan sebagai strategi kepemimpinan sangat penting peranannya, karena tanpa kemampuan dan keberanian tersebut, pemimpin tidak mungkin menggerakkan anggota oraganisasinya. Dengan kata lain tanpa keberanian mengambil keputusan seorang pemimpin tidak mungkin mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku anggota organisasinya.

2.    Fungsi Instruktif

Setiap pimpinan harus memahami bahwa di dalam posisi dan peranannya secara implisit terdapar kekuasaan dan/atau wewenang dan tanggung jawab, yang harus dijalankan secara efektif. Salah satu di antaranya adalah kekuasaan dan/atau wewenang memerintahkan anggotanya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota organisasi. Dengan kata lain fungsi instruktf tidak harus dijalankan secara otoriter, yang dapat berdampak pemimpin kehilangan kewibawaannya karena instruksi ditantang atau ditolak dan tidak dilaksanakan oleh anggota organisasi.

3.    Fungsi Konsultatif

Setiap dan semua pimpinan organisasi atau unit kerja dinilai sebagai seorang yang memiliki kelebihan dari anggota organisasi, baik oleh pihak yang berwenang mengangkatnya sebagai pemimpin formal, maupun bagi anggota yang mendukung dan mengangkatnya menjadi pemimpin informal. Berdasarkan penilaian itu, maka pemimpin menjadi figur sentral dan tumpuan harapan anggota di lingkungan organisasi yang dipimpinnya. Pemimin ditempatkan sebagai tokoh utama yang diyakini mengetahu dan dapat membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi oleh anggota organisasi dalam bekerja. Pemimpin dipandang sebagai tujuan yaang tepat untuk berkonsultasi dan meminta arahan terkait masalah yang sedang dihadapi.

4.    Fungsi Partisipatif

Fungsi partisipatif sebagai strategi kepemimpinan dalam kepemimpinan untuk mengektifkan organisasi, ibarat pisau bermata dua. Mata pisau yang pertama adalah kemampuan pemimpin mengikutsertakan anggota organisasi sesuai posisi dan kewenangannya agar berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan yang relevan. Partisipasi aktif itu dapat diwujudkan juga dalam berbagai kegiatan penting, seperti kegiatan pengembangan anggota organisasi dalam bentuk kegiatan suksesi pemimpin masa depan.

Mata pisau yang kedua adalah kesediaan pucuk pimpinan dan pimpinan-pimpinan di bawahnya untuk berpartisipasi dalam membantu anggota organisasi melaksanakan pekerjaan atau menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan memberikan petunjuk, berdiskusi, menyelesaikan pekerjaan yang mendesak bersama-sama dll yang dilakukan di tempat kerjanya ata tempat khusus yang disediakan untuk keperluan seperti itu.

5.    Fungsi Delegatif

Dalam melaksanakan kepemiminan untuk mengektifkan organisasi, setiap pemimpin memerlukan dan memiliki kekuasaan/kewenangan dan tanggung jawab yang harus diimplementasikan secara baik, tepat dan benar. Sehubungan dengan itu Paul W. Gumming dalam Nawawi (2006: 56) mengatakan bahwa wewenang merupakan bentuk khhusus kekuasaan. Kekuasaan dianggap sebagai kemampuan seseorang untuk membuat kemauannya dipatuhi. Sedang wewenang merupakan suatu fungsi dari kedudukan yang syah dalam suatu hierarki tertentu.

 Dalam menggunakan kekuasaan dan tanggung jawabnya, pemimpin harus mampu mengatur atau membuat aturan-aturan dan berusaha menegakkan dan mematuhi aturan-aturan itu. Dalam mempengaruhi orang lain agar mematuhi aturan-aturan itu, pemimpin harus lebih dahulu menampilkan diri sebagai anggota organisasi yang kepatuhannya paling prima. Dengan kata lain pemimpin harus mampu menjadi suri teladan dalam mematuhi peraturan yang dibuat atas dasar kekuasaan yang pembidangan dan pembagian volume kerja sesuai struktur organisasi.

 

2.4         Ciri-ciri Pemimpin yang Baik

Menjadi seorang pemimpin yang ideal merupakan hal yang tak mudah. Seorang pemimpin dituntut untuk terlihat sempurna tanpa celah di depan para pengikutnya  meskipun pada kodratnya kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun seorang pemimpin tak mampu sempurna dalam proses kepemimpinannya, namun ia mampu untuk menjadi pemimpin yang ideal bagi para pengikutnya. Maksud dari kata ideal yaitu pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan.

Untuk dapat mengidentifikasi ciri-ciri pemimpin yang ideal ada baiknya kita melihat pendapat yang dikemukakan oleh George R.Terry dalam Fahmi (2015) yang mengemukakan delapan ciri dari pemimpin, yaitu sebagai berikut:

1.    Energi: mempunyai kekuatan mental dan fisik.

2.    Stabilitas emosi: seorang pemimpin tidak bolehh berprasangka jelek terhadap bawahannya, ia tidak boleh cepat marah dan percaya pada diri sendiri harus cukup besar.

3.    Human relationship: mempunyai pengetahuan tentang hubungan manusia.

4.    Personal motivation: keinginan untuk menjadi pemimpin harus besar, dan dapat memotivasi diri sendiri.

5.    Communication skill: mempunyai kecakapan untuk berkomunikasi

6.    Teaching skill: mempunyai kecakapan untuk menggajarkan, menjelaskan dan mengembangkan bawahannya.

7.    Social skill: mempunyai keahlian di bidang sosial, supaya terjamin kepercayaan dan kesetaan bawahannya. Ia harus suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah serta luwes dalam pergaulan.

8.    Technical competent: mempunyai kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasi, mendelegasikan wewenang, mengambil keputusan fan mampu menyusun konsep.

Lebih lanjut Maxwell dalam Pasolong (2015: 12) memberikan rujukan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.    Pemimpin yang baik mampu menciptakan lingkungan yang tepat. Cara paling baik untuk memiliki loyalitas personel ialah dengan memperlihatkan perhatian kepada mereka dengan kata-kata dan perbuatan.

2.    Pemimpin yang baik mengetahui kebutuan dasar bawahannya.

3.    Pemimpin yang baik mampu mengendalikan keuangan, personalia, dan perencanaan.

4.    Pemimpin yang baik mampu menghindari tujuh dosa yang mematikan yaitu:

a.    Berusaha untuk disukai bukan dihormati

b.    Tidak minta nasihat dan bantuan kepada orang lain

c.    Mengesampingkan bakat pribadi dengan menekan peraturan bukan keahlian

d.   Tidak menjaga untuk dikrtitik tetap konstruktif

e.    Tidak mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri orang lain

f.     Memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama

g.    Tidak membuat setiap orang selalu mendapat informasi

 

2.5    Teori Kepemimpinan

Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Dalam praktiknya teori kepemimpinan cukup menarik karena dapat  membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. beberapa ahli teori menembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat.

Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan menurut Hocking & Boggardus dalam Chaniago (2017: 37) yaitu: ”Kualitas pemimpin dan kepemiminan yang tergantung kepada situasi kelompok, dan kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama”. Selanjutnya Kartono (2016: 32), mengemukakan bahwa teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-musabab timbulnya kepemimpinan, persyaratan menjadi pemimpin, sifat-sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi kepemimpinan.

Menurut Pasolong (2015: 88) ada beberapa teori kepemimpinan, yaitu:

1.    Teori Sifat (Traits Theory)

Teori Sifat (Traits Theory) berasumsi bahwa seorang yang dilahirkan sebagai pimpinan karena memiliki sifat-sifat sebagai pemimpin. Namun pandangan teori sifat ini juga tidak memungkinkan bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga ficapai leqat suatu pendidikan dan pengalaman. Teori sifat telah berusaha menggenaralisasi sifat-sifat yang dimiliki oleh pemimpin seperti fisik, mental dan kepribadian. Dengan asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang dimiliki atau melekat dalam diri pemimpin tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental, psikologi, personalitas dan intelektualitas.

Stoner dalam Pasolong (2015: 89), mengatakan bahwa ternyata teori sifat gagal membuktikan keandalannya sebab tidak satupun kombinasi yang secara konsisten dapat membedakan antara pimpinan dan bukan pemimpin, atau antara pemimpin efektif dan yang tidak efektif.

2.    Teori Kelompok

Teori kelompok beranggapan bahwa kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Penelitian psikologi sosial dapat digunakan untuk mendukung konsep-konsep peranan dan pertukaran yang diterapkan dalam kepemimpinan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Barrow dalam Pasolong (2015: 90) menemukan bahwa produktivitas kelompok mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap gaya kepmimpinan dibandingkan dengan pengaruh gaya kepemimpinan terhadap produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para bawahan dapat mempengaruhi perilaku pemimpin, sebanyak pemimpin beserta perilakunya mempengaruhi bawahannya.

3.    Teoi Situasional atau Kontigensi

Teori ini berasumsi bahwa kinerja suatu kelopok tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan kesesuaian antara situasi (Situasional favorableness). Kepemimpinan dipandang sebagai hubungan yang didasarkan atas pengaruh dan kekuasaan. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam teoi ini yaitu ”Bagaimana seorang pemimpin mempunyai kekuasaan akan menjadi efektif serta faktor-faktor situasi yang sesuai dan sejauh mana gaya kepemimpinan seseorang mempengaruhi perilaku dan kinerja bawahan”.

4.    Teori Jalan Kecil-Tujuan (Path Goal Theory) Versi House

Teori Jalan Kecil-Tujuan berasumsi bahwa dengan perilaku kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan, dan kinerja para pengikut. Teori Jalan Kecil-Tujuan versi House, memasukkan empat tipe gaya utama kepemimpinan yaitu:

a)      Kepemimpinan Direktif, yaitu bawahan tahu dengan pasti apa yang diharapkan dirinya pengarahan yang khusus dari pemimin

b)      Kepemimpinan yang mendukung (Supportive Leadership), yaitu pemimpin mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian yang tinggi terhadap bawahannya.

c)      Kepemimpinan partisipatif, yaitu gaya pemimpin yang berusaha meminta dan menggunakan saran-saran dari bawahannya. Namun keputusan tetap berada pada pemimpin.

d)     Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, yaitu gaya ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya untuk berpartisipasi. Pemimpin juga memberi keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan secara baik.

5.    Teori Perilaku (Behaviour Theory

Teori perilaku (behaviour theory) dilandasi pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dengan pengikut, dan dalam interaksi pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsi apakah menerima atau menolak pengaruh dari pemimpinnya. Pendekatan perilaku menghasilkan dua orientasi perilaku pemimpin yaitu:

1.      Pemimpin yang berorientasi pada tugas (task orientation) atau yang mengutamakan penyelesaian tugas. Pemimpin dalam pendekatan ini menampilkan gaya kepemimpinan otokratik yang mempunyai ciri seperti menentukan kebijakan untuk anggota, memberi tugas secara instruktif, mengendalikan secara ketat pelaksanaan tugas, interaksi dengan anggota terbatas, dan tidak mengembangkan inisiatif bawahan.

2.      Pemimpin yang berorientasi pada orang (people orientation) atau yang mengutamakan hubungan kemanusiaan. Pemimpin yang berorientasi pada orang menampilkan gaya kepemimpina demokratis. gaya kepemimpinan demokratik mendorong bawahan untuk menentukan kebijakan sendiri, memberi pandangan tentang langkah dan hasil yang diperoleh, memberi kebebasan untuk memulai tugas, memelihara komunikasi dan interaksi yang luas serta mengembangkan inisiatif para pengikut.

2.6    Gaya Kepemimpinan

Pada dasarnya gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap keberhasilan pemimpin dalam mengerakkan para pengikutnya. Setiap pemimpin memiliki gaya yang berbeda dalam proses kepemimpinannya. Gaya / style  yang diterapkan oleh pemimpin biasanya dipengaruhi oleh keadaan organisasi. Untuk itu tak jarang pemimpin menerapkan lebih dari 1 style dalam proses kepemimpinannya untuk menunjang keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan.  Berikut akan diuraikan beberapa jenis gaya kepemimpinan.

1.    Gaya Kepemimpinan Keating (1986)

Keating dalam Pasolong (2015: 38), membagi dua gaya kepemimpinan yaitu: (1) Kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task oriented)., (2) Kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (human relationship oriented). dari dua bidang tugas kepemimpin itu, kemudian dikembangkan menjadi 4  teori yaitu:

a.    Kekompakan tinggi dan kerja rendah.

Gaya kepemimpinan ini berusaha menjaga hubungan baik, keakraban dan kekompakan kelompok atau penyelesaian tugas bersama. Inilah gaya kepemimpinan dalam perkumpulan sosial rekreatif. Dalam perkumpulan-perkumpulan semacam itu, seperti kelompok rekreasi, paguyuban persahabatan, sebagian besar perhatian diberikan kepada hubungan antar kelompok, kalau ada, sedikit dan kadang-kadang saja. Maka gaya ini tidak akan jalan, jika dipergunakan bagi kelompok yang bertujuan untuk mencapai sesuatu, kelompok yang harus produktif. Karena tujuan kelompok produktif, bukanlah pertama-tama keakraban dan kegembiraan bersama, tetapi selesainya tugas, tercapainya tujuan.

b.   Kerja Tinggi Dan Kekompakan Rendah.

Gaya kepemimpinan ini menekankan segi penyelesaian tugas dan tercapainya tujuan kelompok. Gaya kepemimpinan ini menampilkan gaya kepemimpinan direktif. Gaya kepemimpinan ini baik untuk kelompok yang baru dibentuk, yang membutuhkan tujuan dan sasaran jelas, dan kelompok yang telah kehilangan arah, tidak mempunyai lagi tujuan dan saran, tidak mempunyai kriteria untuk meninjau lagi hasil kerjanya, yang sudah kacau dan tak berarti lagi. Karena gaya ini memberi kejelasan tujuan dan sasaran kerja serta pengawasan yang ketat atas usaha mencapai tujuan dan sasaran itu. Gaya kepemimpinan yang direktif ini tepat dipergunakan dalam usaha dagang yang penuh persaingan, situasi gawat dan dikalangan militer.

c.    Kerja Tinggi Dan Kekompakan Tinggi

Gaya kepemimpinan ini merupakan yang menjaga kerja dan kekompakan kepemimpinan tinggi cocok dipergunakan utntuk membentuk kelompok. Kelompok yang baru dibentuk membutuhkan kejelasan tujuan dan sasaran, struktur kerja untuk mencapai tujuan dan sasaran itu, serta usaha untuk membina hubungan antara para anggota. Waktu menggunakan gaya kepemiminan itu untuk membentuk kelompok, pemimpin perlu melengkapinya dengan contoh. Pemimpin perlu menjadi model untuk kelompok dengan menunjukkan perilaku yang membuat kelompok efektif dan puas.

d.   Kerja Rendah Dan Kekompakan Rendah

Gaya kepemimpinan ini kurang menekankan penyelesaian tugas dan kekompakan kelompok cocok untuk kelompok yang sudah jelas akan tujuan dan sasarannya, gamblang akan cara untuk mencapai tujuan dan sasaran itu, dan mengetahui cara menjaga kehidupan kelompok selama mencapai tujuan dan sasarannya. Gaya kepemimpinan ini merupakan gaya kepemimpinan yang menggairahkan untuk kelompok yang sudah jadi. Keputusan untuk mempergunakan gaya kepemimpinan itu amat tergantung pada sejarah dan keadaan kelompok yang ada. Apakah kelompok itu memang sudah dan masih mampu menjalankan tugas untuk mencapai tujuan bersama dan untuk menjaga kekompakan kelompok. Kalau kelompok memang sudah matang, tugas pemimpin menjadi terbatas dan melengkapi hal-hal yang belum ditangani kelompok.

2.    Gaya Kepemimpinan House (1997)

House dalam Pasolong (2015: 39), mengemukakan ada empat gaya kepemimpinan yang perilaku seorang pemimpin yaitu:

1.    Kepemimpinan direktif (directive leadership,) yaitu  pemimpin memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengetahui apa yang menjadi harapan pemimpinnya dan pemimpin tersebut menyarakan kepada bawahannya tentang bagaimana dapat melaksanakan suatu tugas. Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin berorientasi pada hasil.

2.    Kepemimpinan partisipatif (participative leadership), yaitu pemimpin berkomunikasi dengan bawahannya dan bertanya untuk mendapatkan masukan-masukan atau saran-saran dalam rangka pegambil keputusan.

3.    Kepemimipnan suportif (supportive leadership), yaitu usaha pemimpin unruk menekankan diri dan bersikap ramah serta menyenangkan bawahannya.

4.    Kepemimpinan berorientasi pada prestasi (achievement oriented leadership) pemimpin menetapkan tujuan-tujuan yang bersifat menantang: pemimpin tersebut mengharapkan agar bawahan berusaha mencapai tujuan tersebut secara efektif, serta pemimpin menunjukkan rasa percaya diri kepada bawahannya bahwa mereka akan memenuhi tuntutan bawahannya.

3.    Gaya Kepemimpinan Kontinum Robert Tannembaun dan Waren H. Schmidth

Tannembaum dan Schmidt dalam Mulyadi (2015: 163) mengembangkan model kepemimpinan berbagi kebebasan menggunakan kekuasaan. Model ini disusun dengan asumsi bahwa kepemimpinan merupakan proses interaksi kekuasann antara pemmpin dan para pengikutnya. Hubungan tersebut didasarkan pada tinggi rendahnya kebebasan penggunaan kekuasaan oleh pemimpin dan tinggi rendahnya kebebasan pengikut untuk menggunakan kekuasaannya dalam interaksi kepemimpinan.

Kebebasan mempergunakan kekuasaan diaplikasikan oleh pemimpin dan para pengikutnya untuk berinisiatif, mengembangkan dan menggunakan kreativitas dan inovasi, mengambil keputusan, menggunakan teknik mempengaruhi, dan menyusun pola komunikasi.

4.    Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi Reddin

Reddin dalam Pasolong (2016: 43), menggambarkan efektivitas kepemimpinan dalam 3 hal pokok (tiga kotak), oleh sebab itu pendekatannya disebut model 3 dimensi. kotak yang ditengah merupakan dasar pemimpin seperti halnya penemuan Ohio. Dari kotak yang ditengah ditarik ke atas dan ke bawah yang melukiskan sebagai gaya efektif dan tidak efektif.

Gaya efektif berada di kotak atas yang terdiri atas empat gaya yaitu gaya eksekutif, pecinta pengembangan (developer), otokratis yang baik (benevolent autocrat), dan birokrat. Sedangkan gaya yang tidak efektif berada pada kotak bawah yang juga terdiri atas empat gaya, yaitu pecinta kompromi (compromiser), misionari (missionary), gaya otokrat dan gaya lari dari tugas (deserter).

1.    Gaya eksekutif, yaitu pemimpin banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Pemimin yang memakai gaya ini disebut motivator yang baik, mau dan mampu menetapkan standar kerja yang tinggi, mau mengenal perbedaan karakteristik individu, mau menggunakan kerja tim dalam manajemen.

2.    Gaya pecinta pegembangan, yaitu pemimpin meeberikan perhatian maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Pemimpin yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan implisit terhadap orang-orang yang bekerja dalam birokrasi dan sangat memperhatikan pengembangan individu.

3.    Gaya otokratis yang baik hati, yaitu pemimpin memberikan perhatian yang maksimal pada tugas dan minimal pada hubunhan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini mengetahui secara tepat yang diinginkan dan cara mencapainya tanpa menyebabkan keengganan pihak bawahannya.

4.    Gaya birokrat, yaitu pemimpin memberikan yang maksimal pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini sangat tertarik kepada aturan-aturan dan mengontrol pelaksanaanya secara teliti.

5.    Gaya pecinta kompromi, yaitu pemimpin memberikan perhatian yang besar pada tugas pekerjaan dan hubungan kerja berdasarkan kompromi. Pemimpin yang menggunakan gaya ini merupakan pembuat keputusan yang jelek / kurang baik karena banyak tekanan bawahan yang mempengaruhinya.

6.    Gaya Missionari, yaitu pemimpin memperhatikan maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Maksimal yang menggunakan gaya ini hanya menilai keharmonisan sebagai tujuan dirinya sendiri.

7.    Gaya Otokrat, yaitu pemimpin memberikan perhatian yang maksimal pada tugas dan minimal pada hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini tidak percaya pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada pekerjaan yang cepat dan selesai.

8.    Gaya lari dari tugas, yaitu pemimpin sama sekali tidak memberikan perhatian pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini tidak peduli pada tugas dan orang lain.

5.    Gaya Kepemimpinan Lippit & White (1960)

Gaya kepemimpinan yang dikembangkan oleh Lippit & White dalam Pasolong (2015: 46) membahas berbagai hubungan antara perilaku pemimpin yang berbeda, yaitu perilaku otoriter, demokratis, dan Laissez Faire.

1.    Gaya Otokratis, yaitu gaya kepemimpinan otoritarian dapat pula disebut tukang cerita. Pemimpin otokratis biasanya merasa cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah-perintah langsung kepada bawahan.

2.    Gaya Demokratik, yaitu gaya kepemimpinan yang dikenal pula sebagai gaya partisipatif. Gaya ini berasumsi bahwa para anggota organisasi yang ambil bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan akan lebih memungkinkan sebagai suatu akibat mempunyai komitmen yang jauh lebih besar pada sasaran dan tujuan organisasi. ”Pendekatan tidak berarti para pemimpin tidak membuat keputusan, tetapi justru seharusnya memahami terlebih dahulu apakah yang menjadi sasaran organisasi sehingga mereka dapat mempergunakan pengetahuan para anggotanya”. Sudriamunawar dalam Pasolong (2015: 47).

3.    Gaya Laissez Faire yaitu gaya kepemimpinan kendali bebas. Pendekatan ini bukan berarti bahwa tidak adanya sama sekali piminan. Gaya ini berasumsi bahwa suatu tugas disajikan kepada kelompok yang biasanya menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut dalam rangka mencapai sasaran-sasaran dan kebijakan organisasi.

2.7    Kepemimpinan Pelayanan

Kepemimpinan yang melayani, bermula dalam karya tulis Greenleaf (1970, 1972, 1977), telah menjadi minat pakar kepemiminan untuk lebih dari 40 tahun. Hingga baru-baru ini, sedikit penelitian empiris tentang kepemimpinan yang melayani telah muncul dalam jurnal terkenal di mana artikel harus dibaca terlebih dulu oleh pembaca ahli. ”Kepemimpinan yang melayani menekankan bahwa pemimpin perhatian pada masalah pengikut mereka, empati dengan mereka, serta mengembangkan mereka” (Northouse, 2013). Pemimpin yang melayani lebih mengutamakan pada kepentingan para pengikut serta selalu berupaya dalam proses pengembangan kepribadian yang mengarah pada keberhasilan para pengikutnya.

Greenlleaf dalam Northouse (2013: 209) menyatakan bahwa kepemimpinan yang melayani dimulai dengan perasaan alamiah bahwa kita ingin melayani lebih dulu. Yukl (2017: 473), menjelaskan bahwa ”Kepemimpinan melayani ini harus memberdayakan para pengikut bukannya menggunakan kekuasaan untuk medominasi mereka”. Pemimpin yang melayani

2.8         Esensi, Prinsip dan Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan

2.8.1   Esensi Kepemimpinan Pelayanan

Lantu dalam Pasolong (2015: 65), menyatakan bahwa esensi kepemimpinan pelayanan terletak pada bagaimana mengembangkan pihak lain (pengikut, komunitas internal dann eksternal), bukan untuk mementingkan diri sendiri. Selanjutnya Russel & Stone dalam Pasolong (2015: 66), menjelaskan bahwa tujuan utama dari seorang pemimpin pelayanan adalah melayani dan memenuhi kebutuhan pihak lain, yang secara optimal seharusnya menjadi motivasi utama kepemimpinan. Kepemimpinan pelayanan merupakan suatu gaya kepemimpinan yang lebih memfokuskan pada kesejahteraan dan pengembangan para pengikutnya.

2.8.2   Prinsip Kepemimpinan Pelayanan

Ada beberapa prinsip utama dari kepemimpinan pelayan yang perlu dieksplorasi secara individual untuk menyajikan gambaran yang lebih lengkap dari kerangka konsep kepemimpinan pelayan. Berikut empat prinsip utama kepemimpinan pelayanan menurut Smith dalam Iswanto (2017: 165).

1.    Layanan untuk pihak lain.

Kepemimpinan pelayan dimulai ketika seorang pemimpin beranggapan bahwa posisinya memberikan layanan dalam interaksinya dengan pengikutnya. Kepemimpinan otentik atau legitimasi  muncul bukan dari pelaksanaan kekuasaan atau tindakan interes pribadi, tetapi dari keinginan mendasar untuk pertamatama membantu pihak lain. Menurut Greenleaf bahwa "fakta sederhana ini adalah kunci untuk kebesaran seorang pemimpin". Motivasi dan tujuan utama seorang  pemimpin pelayan adalah untuk mendorong orang lain menjadi besar, sedangkan keberhasilan organisasi merupakan turunan secara tidak langsung dari kepemimpinan pelayan.

2.    Pendekatan holistik untuk bekerja

Kepemimpinan pelayan menyatakan bahwa "Pekerjaan yang ada untuk orang  adalah sebanyak orang yang ada untuk pekerjaan". Hal ini menantang  organisasi untuk memikirkan kembali hubungan yang ada antara orang, organisasi,  dan masyarakat secara keseluruhan. Teori ini memajukan suatu pandangan bahwa individu harus didorong menjadi diri mereka sendiri, baik  dalam profesi  mereka maupun dalam kehidupan pribadi. Dengan lebih personal dan  penilaian terpadu secara individu pada akhirnya akan menguntungkan kepentingan jangka panjang dan kinerja organisasi.

3.    Memajukan rasa berkomunitas.

Kepemimpinan pelayan mempertanyakan kemampuan lembaga untuk memberikan pelayanan kepada manusia dan berpendapat bahwa hanya masyarakat, yang didefinisikan sebagai kelompok individu yang secara bersama-sama saling bertanggung jawab untuk satu sama lain, baik secara individu maupun sebagai satu kesatuan unit yang dapat melakukan fungsi tersebut. Hanya dengan membentuk rasa komunitas di antara pengikut maka organisasi akan dapat berhasil dalam tujuannya. Selanjutnya, menurut teori ini bahwa rasa komunitas akan dapat timbul hanya dari tindakan individu seorang pemimpin pelayan.

4.    Berbagi  kekuasaan dalam pengambilan keputusan.

Kepemimpinan pelayan efektif merupakan bukti  terbaik melalui penanaman kepemimpinan pelayan pada pihak lain. Dengan memelihara keikutsertaan, pemberdayaan lingkungan, dan mendorong bakat para pengikut, pemimpin pelayan menciptakan lebih efektif tenaga kerja termotivasi dan akhirnya organisasi yang lebih sukses. Seperti diutarakan oleh Russel dalam Iswanto (2017: 166), "Pemimpin memungkinkan orang lain untuk bertindak bukan dengan penimbunan kekuasaan yang mereka miliki, tetapi dengan memberikannya kepada orang  lain". Struktur organisasi yang dihasilkan dari kepemimpinan pelayan  kadang-kadang disebut sebagai "piramida terbalik", dengan karyawan, klien dan pemangku kepentingan lainnya di bagian atas, dan pemimpin di bagian bawah.

 

2.8.3   Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan

Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan menurut Laub dalam Pasolong (2015: 66), terdapat enam poin yaitu sebagai berikut.

1.    Menghargai orang lain, yaitu dengan cara mendengarkan secara intens, melayani kebutuhan pihak lain sebagai prioritas utama, dan mempercayai orang lain.

2.    Mengembangkan orang lain, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada pengikut untuk terus belajar, memberikan keteladanan, dan memberdayakan pihak lain.

3.    Membangun komunitas, yaitu membangun hubungan yang kuat, kolaborasi serta menghargai perbedaan dan latar belakang individu.

4.    Memperlihatkan autentitas, yaitu melalui integritas dan sistem kepercayaan, dan pertanggungjawaban serta adanya keinginan untuk belajar dari orang lain.

5.    Memberikan kepemimpinan, yaitu dengan cara penggambaran masa depan, mengambil inisiatif, dan mengklarifikasikan tujuan-tujuan yang ada.

6.    Pendistribusian kekuasaan serta status kepemimpinan, yaitu melalui perilaku pencapaian visi bersama, penyebaran kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan status untuk semua level dalam organisasi.

Selanjutnya Patterson dalam Pasolong (2015: 66) mengelompokkan tujuh karakteristik kepemimpinan pelayanan yang akan diuraikan dibawah ini.

1.    Cinta Agape (Aggapao love), yaitu cinta kasih moral pemimpin dengan melakukan sesuatu yang baik dengan alasan yang benar pada saat yang tepat.

2.    Rendah hati (humility), yaitu kmampuan seseorang intuk menjaga keseimbangan antar kemampuan yang dimiliki serta kesadran bahwa apa yang telah dicapai dapat terjadi oleh karena sumbangsih pengikutnya, bukan karena dirinya sendiri.

3.    Altruisme (Altruism), yaitu suatu tindakan membantu orang lain secara tulus.

4.    Memiliki visi (vision), yaitu membanbun visi organisasi melalui visi-visi personal pada pengikutnya secara agregasi

5.    Rasa percaya (Trust), yaitu mereka percaya bahwa bekerja dalam organisasi tersebut dengan seorang pemimpin pelayan akan mengarahkan mereka pada tercapainya visi pribadi mereka sendiri.

6.    Memberdayakan pihak lain (Empowerment), yaitu mempercayakan kekuasaan kepada pihak lain kemudian menyatakannya, oleh karena itu pemimpin pelayan akan mendengarkan dan berempati pada pengikutnya.

7.    Melayani (Service), yaitu inti dari kepemimpinan pelayan, oleh karena pelayanan harus menjadi fungsi utama dari kepemimpinan, bukan berdasar pada kepentingan pribadi tetapi lebih mengarahkan kepada kepentingan orang lain.

2.9    Kerangka Konseptual

Pada dasarnya kepemimpinan pelayanan merupakan gaya kepemimpinan yang berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan para pengikut. Pemimpin yang melayani mempunyai kewajiban untuk selalu mendengarkan para pengikutnya, memahami setiap keluhan serta memberi alternatif penyelesaian terhadap masalah yang mereka hadapi.

Untuk lebih jelasnya penulis menggambarkan kerangka konseptual Kepemimpinan Pelayanan General Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi  sebagai berikut. 






 

BAB III     

METODE PENELITIAN

3.1    Tempat dan  Waktu Penelitian

Tempat penelitian yaitu pada kantor PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi yang terletak di Jl. Urip Sumoharjo No. Km7, Tello Baru, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari selama satu bulan.

3.2    Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe deskriptif yaitu memberikan gambaran secara jelas mengenai gaya kepemimpinan General Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi. Penelitian ini berfokus pada penyelidikan terhadap satu variabel mandiri tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lainnya.

3.3         Populasi dan Sampel

3.3.1   Populasi

Populasi yaitu wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai jumlah dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dianalisis dan kemudian ditarik kesimpulannya Sugiyono (2017: 90). Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh karyawan yang ada pada kantor PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi. Populasi yang terdapat pada kantor PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi sebanyak 103 orang.

3.3.2   Sampel

Pasolong (2020: 101) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian dari kuantitas populasi yang mencerminkan dari keseluruhan populasi. Sedangkan Sugiyono (2017: 91), mengungkapkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik stratified random sampling, yaitu suatu teknik panarikan sampel yang digunakan apabila anggota populasi yang tidak homogen dan berstrata, Pasolong (2020: 104). Dari 103 populasi, di ambil sampel sebanyak 78 orang karyawan PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi dari hasil perhitungan menggunakan tabel Isaac dan Michael dengan margin error 5%.

3.4    Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu observasi, kuesioner dan wawancara.

1.    Observasi

Observasi atau pengamatan yang dirumuskan oleh Pasolong (2020: 13), merupakan teknik (cara) yang pertama kali digunakan dalam penelitian ilmiah. Kegiatan penelitian ilmiah pada awalnya ditujukan untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan tentang lingkungan manusia, sesudah itulah penelitian ilmiah diterapkan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah tentang kegiatan manusia dalam hubungannya satu sama lain, termasuk masalah yang ditimbulkannya.

2.    Kuesioner

Menurut Sugiyono (2016: 162) “Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara  memberi seperangkat pertanyaaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Sedangkan menurut Pasolong (2020: 141), “Kuesioner adalah suatu pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang diisi oleh responden itu sendiri”. Dalam teknik kuesioner, responden mempunyai peranan penting dalam memperoleh data yang dibutuhkan. Tujuan penggunaan kuesioner dalam suatu penelitian ada dua, yaitu untuk memperoleh informasi dengan validitas dan reliabilitas yang setinggi mungkin.

3.    Wawancara

Pasolong (2020: 137), mengemukakan bahwa “wawancara merupakan kegiatan tanya jawab antara dua orang atau lebih secara langsung”. Pewawancara disebut interviewer, sedangkan orang yang diwawancarai disebut interviewee. Selanjutnya Sugiyono (2017: 157), menyatakan bahwa “wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil”. Lebih lanjut ia menuliskan bahwa wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Wawancara yang akan dilakukan pada kantor PLN UIKL (Sulawesi) bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat serta relevan dengan topik yang akan dibahas pada bab selanjutnya.

3.5    Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif yang diukur dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Jawaban kuesioner menggunakan skala likert yang merupakan pengukuran sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2017: 107). Pengukuran data dengan menggunakan skala likert ditujukan untuk mengidentifikasi apakah General Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi menerapkan gaya kepemimpinan pelayanan.

Berikut adalah tabel distribusi frekuensi menggunakan skala likert terkait dengan pemberian skor pada setiap jawaban responden.

Tabel 3.1 Kategori dan Skor Skala Likert

No.

Tanggapan Responden

Skor

1

Sangat baik

5

2

Baik

4

3

Ragu-ragu

3

4

Tidak baik

2

5

Sangat tidak baik

1

Sumber: Metode Penelitan Administrasi Publik (Pasolong: 2020, 153)

3.6    Definisi Operasional

Menurut Pasolong (2020: 86), bahwa ”Definisi operasional merupakan suatu pernyataan dalam bentuk yang khusus dan merupakan kriteria yang bisa diuji secara empiris”. Berikut akan dijabarkan indikator keberhasilan pemimpin pelayan dalam proses kepemimpinannya.

1.        Mendengarkan

Dalam menjalankan proses kepemimpinannya, seorang pemimpin pelayan selalu membangun komunikasi yang baik dengan para pengikut secara interaktif. Pemimpin yang melayani mendengarkan keluhan serta ide-ide yang dikemukan oleh pengikut kemudian mempertimbangkannya dalam penentuan kebijakan yang akan diambil. Hal tersebut dilakukan agar pengikut merasa dihargai kehadiran serta aspirasinya dalam pengembangan organisasi atau perusahaan kedepannya.  

2.        Empati

Pemimpin yang melayani menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan pengikut. Ketika pemimpin yang melayani menunjukkan empati, hal itu menenangkan dan meyakinkan pengikut bahwa pemimpin benar-benar peduli terhadap apa yang mereka rasakan.

3.        Menyembuhkan

Menyembuhkan berarti membuat sehat  dalam artian pemimpin yang melayani peduli dengan keadaan para pengikutnya. Mereka mendukung pengikut dengan membantu mereka mengatasi masalah pribadi. Greenleaf menyatakan bahwa proses penyembuhan adalah jalan dua arah: dengan membantu pengikut menjadi sehat, pemimpin yang melayani itu sendiri menjadi sembuh.

4.        Perhatian

Perhatian merupakan suatu sikap yang muncul dari dalam diri seorang pemimpin yang melayani untuk memahami setiap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Permasalahan yang dimaksud bukan hanya masalah-masalah besar, akan tetapi juga masalah-masalah kecil yang dihadapi oleh para pengikutnya.

5.        Persuasi

Persuasi adalah komunikasi yang jelas dan ulet yang meyakinkan orang lain untuk berubah. Persuasi menciptakan perubahan dengan menggunakan argumen non penilaian yang lembut.  Menurut Spears dalam Northouse (2013: 210), penekanan Greenleaf pada persuasi atas paksaan mungkin terkait dengan hubungan yang bernili dengan Religious Society of Friends (Quakers).

6.        Konseptualisasi

Konseptualisasi merujuk pada kemampuan individu untuk menjadi orang yang memiliki pandangan jauh ke depan bagi keberlangsungan suatu organisasi, dan memberi pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah. Dengan konseptualisasi, seorang pemimpin mampu menciptakan ide kreatif dalam menanggapi permasalahan yang terjadi dalam organisasi.

7.        Peramalan

Peramalan meliputi kemampuan pemimpin yang melayani untuk mengetahui masa depan. Ini adalah kemampuan untuk menduga hal apa yang akan terjadi berdasarkan pada apa yang terjadi di masa sekarang dan apa yang terjadi di masa lampau. Dengan menganalisis permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan apa yang terjadi pada masa sekarang, tentunya seorang pemimpin yang melayani sudah memiliki gambaran besar serta langkah antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang akan terjadi di masa depan..

8.        Tugas untuk mengurus

Tugas untuk mengurus itu adalah tentang memiliki tanggung jawab untuk peran yang dipercayakan kepada pemimpin. Pemimpin yang melayani menerima tanggung jawab untuk mengelola secara hati-hati orang dan organisasi yang mereka pimpin.

9.        Komitmen untuk pertumbuhan orang-orang

Menurut Greenleaf dalam Northouse (2013: 120) bahwa ”Kepemimpinan pelayan menempatkan suatu nilai ekstra pada memperlakukan setiap karyawan sebagai orang yang unik dengan nilai intrinsik yang lebih, dari kontribusi mereka untuk organisasi”. Pemimpin yang melayani memiliki komitmen untuk membantu setiap orang di dalam organisasi agar bisa tumbuh, baik secara pribadi maupun professional. Komitmen bisa memiliki banyak bentuk, termasuk menyediakan bagi pengikut peluang pengembangan karier seperti, membantu mereka mengembangkan keterampilan kerja baru seperti dengan melakukan promosi karyawan yang memiliki kemampuan serta pengalaman yang baik selama bekerja. Dengan melakukan hal yang demikian, tentunya para pengikut akan lebih bersemangat dalam melakukan pekerjaanya karena kerja keras yang ia lakukan sangat dihargai oleh pimpinan.

10.    Membangun komunitas

Pemimpin yang melayani membangun komunitas untuk menyediakan tempat dimana orang bisa merasa aman dan terhubung dengan orang lain, tetapi tetap diperkenankan untuk mengekspresikan individualitas mereka. Dengan adanya komunitas ini individu tidak hanya memiliki tempat untuk menunjukkan kemampuan yang ia miliki tetapi juga ia bisa mengembangkannya dengan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang berada dalam komunitas tersebut.


 

DAFTAR PUSTAKA

Badu, Syamsu Q dan Novianty Djafri. 2017. Kepemimpinan dan Perilaku Organisai. Gorontalo: Ideas Publishing.

Chaniago, Aspizain. 2017. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta Pusat: Lentera Ilmu Cendekia.

Danim, Sudarwan. 2004. Motivasi Kepemimpinan & Efektivitas Kelompok. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Fahmi, Irham. 2017. Pengantar Ilmu Kepemimpinan. Depok: PT RajaGrafindo Persada

Hariri dkk. 2017. Evolusi Pendekatan Teori Kepemimpinan Menuju Kepemimpinan Efektif.  Yogyakarta: Expert.

Iswanto, Yun. 2017. “Jurnal Administrasi Kantor”. Kepemimpinan Pelayan Era Modern. (www.ejournal-binainsani.ac.id, diakses pada 18 Desember 2020).

Kartono, Kartini. 2016. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Pers.

Mulyadi, Deddy. 2015. Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan Pelayanan. Bandung: Alfabeta.

Nawawi, Hadari. 2006. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Northouse, Peter G. 2013. Kepemimpinan: Teori dan Praktik. Jakarta Barat: Permata Puri Media.

Pasolong, Harbani. 2015. Kepemimpinan Birokrasi. Bandung: Alfabeta.

…………………., 2020. Metode Penelitian Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta.

Rukmana, D.W., Nana. 2017. Kepemimpinan Perspektif Agama dan Moral. Bandung: Alfabeta.

Soekarso dkk. 2010. Teori Kepemimpinan. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Sutarto. 2017. Dasar – Dasar Kepemimpinan Administrasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Yukl, Gary. 2017. Kepemimpinan dalamOrganisasi, Edisi Ketujuh. Jakarta Barat. Permata Puri Media.