Diajukan
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan
diploma empat (D-4) Program Studi Administrasi Bisnis
Politeknik
Negeri Ujung Pandang
Oleh:
UCI
452
17 026
PROGRAM
STUDI D-4 ADMINISTRASI BISNIS
JURUSAN
ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK
NEGERI UJUNG PANDANG
MAKASSAR
2020
DAFTAR ISI
2.1.3 Kepemimpinan
dan Manajemen
2.3 Tugas dan Fungsi Kepemimpinan
2.4 Ciri-ciri Pemimpin yang Baik
2.8 Esensi, Prinsip dan Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan
3.1 Tempat
dan Waktu Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan
proses dalam memengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Pada umumnya
proses memengaruhi ini dilakukan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.
Pemimpin memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena
tidak hanya sebagai pemberi perintah akan tetapi juga sebagai penunjuk arah
bagi orang-orang yang sedang ia pimpin. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Syafi’ie (2003:1), pemimpin adalah orang yang mempengaruhi pihak lain melaui
proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain tersebut bertindak sesuatu
dalam mencapai tujuan tertentu.
Lebih lanjut Robert
Kreither dan Angelo Kinicki dalam Nawawi (2006: 21) mengatakan bahwa
kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi anggota untuk mencapai tujuan organisasi
secara sukarela. Pengertian ini menekankan pada kemampuan pemimpin yang tidak
memaksa dalam menggerakkan anggota organisasi agar melakukan pekerjaan/kegiatan
yang terarah pada tujuan organisasi. Sejalan
dengan pengertian tersebut, Gibson dkk dalam Nawawi (2006: 21) mendefinisikan
kepemimpinan adalah upaya menggunakan berbagai jenis pengaruh yang bukan
paksaan untuk bergerak mencapai tujuan organisasi harus dibangkitkan dari dalam
dirinya sebagai penggerak yang disebut motivasi intrinsik. Pada dasarnya dalam
proses memotivasi, seorang pemimpin harus mampu mengendalikan emosi dalam
menghadapi para karyawan serta tidak memaksakan kehendak kepada bawahannya.
Dalam kehidupan
sehari-hari kepemimpinan merupakan hal penting yang dibutuhkan manusia dalam beraktifitas.
Dengan adanya seorang pemimpin maka segala aktivitas menjadi lebih terarah dan
sistematis. Dalam sebuah organisasi bisnis maupun publik, keberadaan seorang pemimpin
sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan organisasi. Keberhasilan bawahan
dalam mengerjakan pekerjaannya sangat bergantung pada kemampuan pimpinan dalam
mengarahkan dan memimpin organisasi tersebut. Keberhasilan seorang pemimpin
sangat tergantung dari kemampuannya untuk mengembangkan minat dan potensi
orang-orang di sekitarnya menjadi lebih berkualitas, karena keberhasilan sebuah
organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi
tersebut. Lebih lanjut Kartasasmita dalam Pasolong (2015: 18) menyatakan bahwa
kepemimpinan sangat penting dan amat menentukan dalam kehidupan setiap bangsa,
karena maju mundurnya masyarakat, jatuh bangunnya bangsa, ditentukan oleh
pemimpinnya.
Pada dasarnya,
kepemimpinan terdiri dari beberapa jenis yakni kepemimpinan pelayan,
kepemimpinan birokrasi, kepemimpinan bisnis, kepemimpinan situasional dan
kepemimpinan transaksiaonal. Gaya kepemimpinan ini merupakan suatu cara yang
digunakan pemimpin dalam memengaruhi bawahannya. Masing-masing gaya kepemimpinan
tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan. Terkait hal tersebut tak jarang
pemimpin menerapkan dua atau lebih gaya dalam kepemimpinannya yang bertujuan
untuk mengembangkan potensi bawahan menjadi lebih baik.
PT Perusahaan Listrik
Negara (Persero) atau yang lebih dikenal dengan singkatan PLN merupakan tempat
pendistribusian listrik yang dituntut untuk mampu melayani kebutuhan masyarakat
di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu unit induk perusahaan ini terdapat di
wilayah Makassar yaitu PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi yang berfokus kepada
penyediaan dan penyaluran Tenaga Listrik kepada masyarakat. Ketika pelayanan
yang diberikan kurang baik atau bahkan sampai merugikan pelanggan, maka
komplain atau protes menjadi pilihan utama masyarakat. Keluhan yang sering
dilayangkan biasanya terkait dengan gangguan listrik yang berkepanjangan tanpa
penanganan yang cepat, petugas PLN kurang ramah dalam memberikan pelayanan, sampai
pada kesalahan petugas dalam menghitung meteran yang mengakibatkan kerugian
materi pada masyarakat. Kesalahan-kesalahan tersebut bukanlah murni karena
kelalaian para petugas PLN tetapi karena kurangnya arahan dan bimbingan serta
pelayanan yang baik dari pimpinan. Creech dalam Pasolong (2015: 19), menjabarkan
bahwa tidak ada kelompok kerja yang jelek, yang ada adalah pemimpin yang jelek.
Selanjutnya Bennis & Nanus dalam Pasolong (1990:5), mengatakan bahwa faktor kunci dan utama yang
dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah kepemimpinan. Kurangnya
kesadaaran pimpinan dalam memberikan pelayanan yang baik kepada bawahan menjadi
salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut diatas terjadi .
Model kepemimpinan
pelayan merupakan tipe kepemimpinan yang mengedepankan untuk melayani pihak
lain dengan rasa kasih dan tulus yang tumbuh dari dalam dirinya. Dengan
menerapkan gaya kepemimpinan pelayan, potensi dan kemampuan para pengikut akan
terus berkembang yang berujung pada keberhasilan organisasi dalam mencapai
tujuannya. Namun berbeda halnya dengan General Manager pada PT PLN
(Persero) UIKL Sulawesi. Setelah melakukan observasi awal, peneliti menemukan
beberapa masalah yang terjadi di dalam perusahaan tersebut antara lain: Adanya
gejala general manager kurang berkomunikasi kepada bawahan, pemimpin
kurang mengapresiasi kerja karyawan serta kurang memberikan pelayanan yang baik
kepada karyawan.
Berdasarkan
hal-hal tersebut, penulis bermaksud mengangkat permasalahan di atas dalam
sebuah judul skripsi “Penerapan Gaya Kepemimpinan Servant pada General
Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di
atas, maka dapat dirumuskan masalah utama yang terkait dalam tulisan ini, yakni
“Penerapan Servant Leadership (Kepemimpinan Pelayanan) Pada General Manager
Pt Pln (Persero) Uikl Sulawesi ?“
1.3
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang
lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini yaitu dibatasi pada Gaya
Kepemimpinan Servant (Pelayan) pada PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi.
Alasan yang mendasari penulis menggunakan objek tersebut karena PT PLN
(Persero) UIKL Sulawesi merupakan perusahaan yang berorientasi pada pelayanan
masyarakat, sehingga pemimpin dalam organisasi tersebut seharusnya telah lebih
dulu menerapkan gaya kepemimpinan melayani dalam organisasi yang ia pimpin.
1.4
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui
bagaimana hubungan kerja sama general manager dengan para pengikutya
dalam organisasii
2.
Untuk mengetahui
penerapan gaya kepemimpinan servant oleh general manager PT PLN
(Persero) UIKL Sulawesi.
1.5
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil
penelitian ini ialah:
1. Sebagai
salah satu syarat penyusunan skripsi untuk menyelesaikan Pendidikan Diplom IV
Adminsitrasi Bisnis pada Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Ujung
Pandang.
2. Sebagai
sarana dalam menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca mengenai
karakteristik gaya kepemimpinan servant.
3. Sebagai
bahan masukan bagi general manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi dalam
penerapan gaya kepemimpinan servant.
4. Dengan
adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi sumber referensi untuk peneliti
selanjutnya dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan topik
Kepemimpinan Servant.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Beberapa Definisi
2.1.1
Definisi Pemimpin
Pemimpin dalam bahasa inggris disebut leader
yang mana kegiatannya disebut sebagai kepemimpinan atau leadership. Dari
kata dasar leader berarti pemimpin dan akar katanya yaitu to lead yang
mengandung beberapa arti yang saling erat berhubungan: bergerak lebih awal,
berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat paling dulu, memelopori,
mengarahkan fikiran-pendapat oorang lain, dan menggerakkan orang lain dalam
pengaruhnya (Baharuddin & Umiarso, 2012:47).
.Untuk mencapai keberhasilan organisasi sangat diperlukan adanya seorang pemimpin dan proses
kepemimpinan. Hal ini diperlukan karena berbagai kegiatan yang hendak dilakukan
oleh semua anggota harus senada dalam artian semua anggota harus bekerjasama
dengan baik. Pemimpin merupakan orang-orang yang menentukan tujuan, motivasi
dan tindakan kepada orang lain.
Pemimpin adalah orang yang memimpin baik dalam
organisasi formal maupun non formal. Menurut Nawawi (2004:9), pemimpin adalah
orang yang memimpin. Sedangkan pengertian pemimpin yang paling baru sebagai
post modern dari Lantu (2007:29), menyatakan bahwa pemimpin adalah pelayan.
Lebih lanjut Kartono (2005: 51), mendeskripsikan
pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga
dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakkan orang lain melakukan
usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu. Dari pernyataan tersebut sudah
tergambar dengan jelas bahwa seorang pemimpin harusnya dapat menjadi panutan
dan penggerak bagi bawahannya untuk melakukan suatu tugas tertentu. Seperti
halnya yang dikemukakan oleh Sudriamunawar (2006: 1) bahwa pemimpin adalah
seorang yang memiliki kecakapan tertentu yang dapat mempengaruhi para
pengikutnya untuk melakukan kerja sama ke arah pencapaian tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya.Syafi’ie (3003:1), mengatakan bahwa pemimpin adalah orang
yang mempengaruhi pihak lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga
orang lain tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
Dari beberapa pendapat para ahli, maka disimpulkan
bahwa pemimpin adalah seorang yang memiliki keahlian serta kecakapan tertentu
dalam kesehariannya yang mampu mongkoordinir serta memberi pengaruh bagi para
bawahan dalam proses pencapaian tugas organisasi atau perusahaan.
2.1.2
Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan secara harfiah
berasal dari kata pimpin. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan,
mombina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi.
Pemimpin mempunyai tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan
aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah
dan tidak aka setiap orang memupunyai kesamaan di dalam menjalankan
kepemimpinannya.
Menurut Irham Fahmi (2017:1), “Kepemimpin
merupakan suatu ilmu yang mengkaji secara komprehensif tentang bagaimana
mengarahkan, mempengaruhi, dan mengawasi orang lain untuk mengerjakan tugas
sesuai dengan perintah”. Kemudian
Sudarwan Danim (2004: 55), mengemukakan bahwa “Kepemimpinan adalah setiap
tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasikan dan
memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung
dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya”.
Selanjutnya
John D. Pfiffner & Robert Presthus (2017:15), juga mengemukakan pendapatnya
yaitu “Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu
serta kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Robbins dalam
Pasolong (2015: 4), menyatakan “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi
kelompok menuju pencapaian sasaran”. Kemudian menurut Sutarto kepemimpin yaitu
rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain
dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Maxwell
dalam Pasolong (2015: 4), kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh pengikut.
Lebih jaul Maxwell menjelaskan bahwa pemimpin terkemuka suatu kelompok tertentu
mudah ditemukan, perhatikan saja orang-orang ketika mereka berkumpul. Kalau
suatu persoalan harus diputuskan, siapa orang yang pandangannya tampak paling
berharga, siapa yang paling diperhatikan, ketika persoalan dibicarakan? Siapa
orang yang paling cepat disetujui oleh orang-orang lainnya?, yang paling
penting, siapa yang paling diikuti oleh orang lainnya? Jawaban terhadap semua
pertanyaan itu akan membantu untuk menentukan siapa pemimpin yang sesungguhnya
dalam suatu kelompok.
Yukl
dalam Pasolong (2015: 4) lebih lanjut menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah
sebagai proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai
peristiwa-peristiwa bagi para pengikut, pilihan dari sasaran-sasaran bagi
kelompok atau birokrasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas kerja untuk
mencapai sasaran-sasaran tersebut, motivasi dari para pengikut untuk mencapai
sasaran, pemeliharaan hubungan kerja sama dan teamwork serta perolehan
hubungan kerja sama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau
birokrasi.
Nawawi
(2006: 26), mengemukakan bahwa kepemimpinan dapat diartikan sebagai
kemampuan/kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih) agar
bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan
bersama. Lebih lanjut Gernberg dalam
Nawawi (2006: 24) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kunci untuk menciptakan
kerja sama yang efektif dalam organisasi. Pengertian tersebut menekankan bahwa
pemimpin perlu memiliki kemampuan dan kecerdasan yang relatif lebih baik dari
anggota organisasinya untuk meyakinkannya mengkreasikan berbagai pendorong yang
dapat menggerakkan anggota organisasinya melakukan kegitan/ pekerjaan yang
menjadi tanggung jawab masing-masing.
Setelah
membaca dan menelaah sejumlah definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan merupakan proses dalam menuntun, mengarahkan serta mempengaruhi
para pengikut secara sadar untuk bekerja sama dalam merealisasikan tujuan serta
harapan organisasi.
2.1.3 Kepemimpinan dan Manajemen
Hampir semua literatur
manajemen memberikan rumusan yang jelas mengenai apa yang dimaksudkan dengan
manajemen. Suatu rumusan yang sering dikemukakan ialah bahwa manajemen merupakan
suatu proses pencapaian tujuan organisasi melalui usaha orang-orang lain.
Dengaan demikian, manajer ialah orang yang senantiasa memikirkan kegiatan untuk
mencapai suatu rujuan organisasi.
Kepemimpinan dan manajemen
seringkali disama artikan oleh banyak orang begitupula pemimpin dan manajer.
Walau demikian, antara keduanya memiliki pengertian yang berbeda dan perlu
untuk diketahui serta dipahami pengertiannya. Pada hakikatnya kepemimpinan
mempunyai pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan manajemen. Lebih
lanjut Bennis dan Nanus dalam Yukl (2017: 07) berpendapat bahwa kepemimpinan
dan manajemen berbeda secara kualitatif dan tidak dapat digunakan bersama-sama.
Menurut Gibson dkk dalam Nawawi
(2006: 33), kepemimpinan adalah bagian manajemen, meskipun tidak secara
keseluruha. Lebih lanjut Nawawi menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan
kemampuan membantu orang lain agar secara antusias menumukan tujuan. Bantuan
itu merupakan faktor manusiawi (human factor) yang mengikat kebersamaan
dalam sebuah kelompok yang memotivasi anggotanya dalam mencapai tujuan. Sedang
manajemen adalah aktivitas yang mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian
dan pengambilan keputusan sebagai kgiatan awal sampai pada pemimpin menggunakan
kekuasaannya dalam memotivasi orang lain dan mengarahkannya pada pencapaian
tujuan.
Selanjutnya Bennis dalam Nawawi
(2006: 34), juga menjelaskan perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen
sebagai berikut:
a.
Manajer adalah mengelola, pemimpin adalah memulai.
b.
Manajer tiruan, pemimpin orisinal.
c.
Manajer mempertahankan, pemimpin mengembangkan..
d.
Manajer berfokus pada sistem dan struktur, pemimpin
berfokus pada orang.
e.
Manajer bergantung pada hasil pengawasan, pemimpin
membangkitkan kepercayaan.
f.
Manajer memiliki pandangan jarak pendek, pemimpin
memiliki perspektif jarak jauh.
g.
Manajer selalu berorientasi pada hasil akhir,
pemimpin berorientasi pada masa depan.
h.
Manajer meniru, pemimpin memulai.
i.
Manajer menerima status qou, pemimpin menantangnya.
j.
Manajer melakukan dengan benar, pemimpin melakukan
yang benar.
2.2
Peran Pemimpin
Pemimpin merupakan seseorang
yang berani dalam mengambil sebuah keputusan dan mempunyai jiwa yang bijaksana
serta dapat memimpin dalam pencapaian tujuan organisasi. Sebagai seorang
pemimpin yang ideal sudah menjadi keharusan untuk mampu memahami serta menjadi
pelopor dalam memotivasi anggotanya untuk bekerja lebih giat untuk hasil yang
memuaskan. Pasolong (2015: 33), merumuskan ada lima peran pemimpin birokrasi
yaitu sebagai berikut.
a.
Peran Pengambilan keputusan, yaitu pemimpin birokrsi
sebagai top manager khususnya, memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan merupakan pekerjaan manajerial yang berarti memutuskan
apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa yang melakukannya, dan
kapan akan dilakukan. Dalam hal ini menetapkan sasaran, prioritas, strategi,
struktur formal, alokasi sumber-sumber daya, pertunjukan tanggung jawab dan
pengaturan kegiatan-kegiatan. Tujuannya adalah untuk memastikan
pengorganisasian unit kerja yang efisien, koordinasi kegiatan-kegiatan,
penggunaan sumber-sumber daya secara efsien, serta adaptasi kepada sebuah
lingkungan yang berubah-ubah.
b.
Peran mempengaruhi, yaitu pemimpin birokrasi harus
dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya, sehingga mau bekerja sama dalam
merealisasikan suatu program kerja. Pemimpin birokrasi dapat mengembangkan
berbagai teknik mempengaruhi bawahan dan ini sebenarnya mudah bagi pemimpinn
birokrasi publik karena kewenangan atasan sangat tinggi.
c.
Peran memotivasi, yaitu berkaitan dengan pemberian
dorongan kepada pegawai untuk bekerja lebih giat. Hubungan pengaruh dan
motivasi adalah kalau peran mempengaruhi efektif, maka peran memotivasi akan
lebih mudah dilakukan. Sebaliknya jika pemimpin tidak mampu menanamkan pengaruh
terhadap bawahannya, maka sulit baginya untuk melakukan motivasi. Dalam memotivasi
hendaknya pemimpin memahami benar-benar karakter bawahan yang berbeda
kemampuan, pengetahuan dan perilaku.
d.
Peran antar pribadi, yaitu peran stratejik pada
peran antar pribadi dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai pemimpin
birokrasi, harus menampilkan perilaku yang baik dan benar seperti etos kerja
yang tinggi, disiplin, dan sikap positif lainnya.
e.
Peran informasional, yaitu peran informasional yang
dimiliki seorang pemimpin birokrasi sangat strategis, mengingat pemimpin
birokrasi adalah pemegang kunci, khususnya informasi tentang birokrasi yang
dipimpinnya. Kemampuan komunikasi sangatlah diperlukan oleh seorang pemimpin
agar dapat menjadi komunikator yang efektif. Peran informasional adalah menjelaskan
kepada bawahan menyangkut rencana-rencana kebijakan-kebijakan, serta harapan
peran, dan instruksi tentang cara pekerjaan harus dilakukan, tanggung jawab
bagi para bewahan atau anggota tim dan tujuan-tujuan kinerja dan otorisasi
rencana tindakan untuk mencapainya.
2.3
Tugas dan Fungsi Kepemimpinan
2.3.1 Tugas Kepemimpinan
Tugas Kepemimpinan (leadership function),
pada dasarnya meliputi dua bidang utama, yaitu pencapaian tujuan organisasi dan
kekompakan orang yang dipimpinnya. Tugas yang berhubungan dengan kekompakan
disebut relationship function. Keating dalam Pasolong (2015: 21),
mengatakan bahwa tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kelompok yaitu:
1.
Memulai (initiating) yaitu usaha agar kelompok mulai
kegiatan atau gerakan tertentu.
2.
Mengatur (regulating) yaitu tindakan untuk mengatur
arah dan langah kegiatan kelompok.
3.
Memberitahu (informating) yaitu kegiatan memberi
informasi, data, fakta, pendapat para anggota dan meminta dari mereka
informasi, data, fakta, dan pendapat yang diperlukan.
4.
Mendukung (supporting) yaitu usaha untuk menerima
gagasan, pendapat, usul dari bawah dan menyempurnakannya dengan menambah atau
mengurangi untuk digunakan dalam rangka penyelesaian tugas bersama.
5.
Menilai (evaluating) yaitu tindakan untuk menguji
gagasan yang muncul atau cara kerja yang diambil dengan menunjukkan
konsekuensi-konsekuensinya dan untung ruginya.
6.
Menyimpulkan (summarizing) yaitu kegiatan untuk
mengumpulkan dan merumuskan gagasan, pendapat dan usul yang muncul, menyingkat
lalu menyimpulkanya sebagai landasan untuk memikirkan lebih lanjut.
Lebih lanjut Keating menjelaskan bahwa tugas
kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakan dalam kelompok antara lain,
yaitu:
1.
Mendorong (encouraging) yaitu bersikap hangat,
bersahabat menerima orang-orang.
2.
Mengungkapkan perasaan, (expresing feeling) yaitu
tindakan menyatakan perasaan terhadap kerja dan kekompakan kelompok, seperti
rasa puas, rasa senang, rasa bangga, dan ikut seperasaan dengan orang-orang
yang dipimpinnya pada waktu mengalami kesulitan, kegagalan, dan lain-lain.
3.
Mendamaikan (harmonizing), yaitu tindakan
mempertemukan dan mendamaikan pendapat-pendapat yang berbeda dan menurunkan
orang-orang yang bersitegang satu sama lain.
4.
Mengalah (compromizing), yaitu kemampuan untuk
mengubah dan menyesuaikan pendapat dan perasaan sendiri dengan pendapat
perasaan orang-orang yang dipimpinnya.
5.
Memperlancar (gatekeeping), yaitu kesediaan membantu
mempermudah keikutsertaan para anggota dalam kelompok, sehingga semua secara
ikhlas menyumbangkan dan mengungkapkan gagasan-gagasan.
6.
Memasang aturan main (setting standarts), yaitu
tindakan menyampaikan atturan dan tata tertib yang membantu kehidupan kelompok.
2.3.2 Fungsi Kepemimpinan
Stoner dalam Pasolong (2015: 22), menyatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah
agar seseorang beroperasi secara efektif kelompok memerlukan seseorang untuk
melakukan dua hal fungsi utama, yaitu ”Berhubungan dengan tugas atau memecahkan
masalah dan Memelihara kelompok atau sosial, yaitu tindakan seperti
menyelesaikan perselisihan dan memastikan bahwa individu merasa dihargai oleh
kelompok”. Selanjutnya Hicks & Gullet dalam Pasolong (2015: 22), membagi
delapan fungsi kepemimpinan, yaitu:
1.
Pemimpin sebagai penengah,
2.
Pemimpin sebagai penganjur,
3.
Pemimpin sebagai pemenuhan tujuan,
4.
Pemimpin sebagai katalisator,
5.
Pemimpin sebagai pemberi jaminan,
6.
Pemimpin sebagai yang mewakili,
7.
Pemimpin sebagai pembangkit semangat, dan
8.
Pemimpin sebagai pemuji.
Adapun secara umum fungsi pokok pemimpin dalam
manajemen organisasi menurut Chaniago (2017: 3) terbagi dalam empat kategori,
yaitu:
1)
Planning (Perencanaan)
Fungsi perencanaan bagi pemimpin dalam manajemen
merupakan aktivitas yang berusaha memikirkan apa saja yang akan dikerjakannya,
beberapa ukuran dan jumlahnya, siapa saja yang melaksanakan dan
mengendalikannya, agar tujuan organisasi dapat dicapai. Perencanaan merupakan
serangkaian kegiatan yang digunakan untuk menentukan arah kedepan (tujuan dan
sasaran) dan cara untuk mencapai tujuan akhir yang dikehendaki.
2)
Organizing (Pengorganisasian)
Fungsi pengorganisasian bagi pemimpin sebagai suatu
proses pembagian kerja melihat bahwa ada unsur-unsur yang saling berhubungan,
yakni sekelompok orang atau individu, ada kerja sama, dan ada tujuan tertentu
yang telah ditetapkan. Interaksi akan terjadi antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Hubungan-hubungan ini
terjadi karena sudah ada pembagian kerja yang jelas dalam suatu sistem. Kerja
sama dalam suatu sistem yang teratur ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan
tertentu yang telah disepakati bersama terhadap kendali dan arahan pemimpin.
Pengorganisasian merupakan suatu proses dalam
mencapai tujuan dan sangat diperlukan oleh masyarakat, baik dalam bidang profit
maupun jasa (pelayanan). Tujuan pengorganisasian akan tercapai bilamana
tiap-tiap individu yang ada sadar akan tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya
sehingga pada akhirnya tujuan akan tercapai.
3)
Actuating / Leading (Kepemimpinan)
Fungsi Kepemimpinan bagi pemimpin adalah
implementasi aransemen yang sudah disusun pemimpin melalui dukungan orang lain.
Hal ini menyiratkan bahwa kepemimpinan berlangsung dalam interaksi antara
pemimpin dan pengikut dalam situasi tertentu. Pada tataran yang lebih tinggi,
kepemimpinan dapat dijabarkan sebagai serangkaian perilaku yang jarang dapat
ditiru oleh kebanyakan orang. Di antara kedua pandangan ini terdapat hubungan
yang khas dan unik di antara orang yang memimpin dan yang mengikuti.
4)
Controling (Pengawasan / Pengenfalian)
Fungsi pengendalian/ pengawasan bagi pemimpin adalah
kemampuan pemimin dalam melakukan fungsi-fungsi pengendalian yaitu: Handoko
dalam Chaniago (2017: 5) mendefinisikan pengendalian sebagai suatu proses untuk
menjamin bahwa tujuan – tujuan organisasi dan manajemen dapat tercapai. Hal ini
berarti berkenaan dengan cara-cara membuat kegiatan-kegiatan sesuai yang direncanakan.
Selanjutnya Nawawi (2006: 40),
mengemukakan terdapat lima poin fungsi kepemiminan sebagaimana diuraikan
dibawah ini.
1.
Fungsi Pengambil Keputusan
Organisasi hanya akan bergerak secara dinamis
apabila pemimpin memiliki kemampuan dalam melaksanakan yang akan atau harus
dilaksanakan oleh anggota organisasinya. Keputusan-keputusan itu harus dibuat
oleh pemimpin agar anggota organisasi dapat melaksanakan berbagai kegiatan atu
pekerjaan sebagai tugas pokok organisasi dalam rangka mewujudkan,
mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi. Fungsi pengambilan
keputusan sebagai strategi kepemimpinan sangat penting peranannya, karena tanpa
kemampuan dan keberanian tersebut, pemimpin tidak mungkin menggerakkan anggota
oraganisasinya. Dengan kata lain tanpa keberanian mengambil keputusan seorang
pemimpin tidak mungkin mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku
anggota organisasinya.
2.
Fungsi Instruktif
Setiap pimpinan harus memahami
bahwa di dalam posisi dan peranannya secara implisit terdapar kekuasaan
dan/atau wewenang dan tanggung jawab, yang harus dijalankan secara efektif.
Salah satu di antaranya adalah kekuasaan dan/atau wewenang memerintahkan
anggotanya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota organisasi. Dengan kata lain fungsi
instruktf tidak harus dijalankan secara otoriter, yang dapat berdampak pemimpin
kehilangan kewibawaannya karena instruksi ditantang atau ditolak dan tidak
dilaksanakan oleh anggota organisasi.
3.
Fungsi Konsultatif
Setiap dan semua pimpinan
organisasi atau unit kerja dinilai sebagai seorang yang memiliki kelebihan dari
anggota organisasi, baik oleh pihak yang berwenang mengangkatnya sebagai
pemimpin formal, maupun bagi anggota yang mendukung dan mengangkatnya menjadi
pemimpin informal. Berdasarkan penilaian itu, maka pemimpin menjadi figur
sentral dan tumpuan harapan anggota di lingkungan organisasi yang dipimpinnya.
Pemimin ditempatkan sebagai tokoh utama yang diyakini mengetahu dan dapat
membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi oleh anggota organisasi
dalam bekerja. Pemimpin dipandang sebagai tujuan yaang tepat untuk
berkonsultasi dan meminta arahan terkait masalah yang sedang dihadapi.
4.
Fungsi Partisipatif
Fungsi partisipatif sebagai
strategi kepemimpinan dalam kepemimpinan untuk mengektifkan organisasi, ibarat
pisau bermata dua. Mata pisau yang pertama adalah kemampuan pemimpin
mengikutsertakan anggota organisasi sesuai posisi dan kewenangannya agar berpartisipasi
aktif dalam berbagai kegiatan yang relevan. Partisipasi aktif itu dapat
diwujudkan juga dalam berbagai kegiatan penting, seperti kegiatan pengembangan
anggota organisasi dalam bentuk kegiatan suksesi pemimpin masa depan.
Mata pisau yang kedua adalah
kesediaan pucuk pimpinan dan pimpinan-pimpinan di bawahnya untuk berpartisipasi
dalam membantu anggota organisasi melaksanakan pekerjaan atau menyelesaikan
masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan memberikan petunjuk, berdiskusi,
menyelesaikan pekerjaan yang mendesak bersama-sama dll yang dilakukan di tempat
kerjanya ata tempat khusus yang disediakan untuk keperluan seperti itu.
5.
Fungsi Delegatif
Dalam melaksanakan kepemiminan
untuk mengektifkan organisasi, setiap pemimpin memerlukan dan memiliki kekuasaan/kewenangan
dan tanggung jawab yang harus diimplementasikan secara baik, tepat dan benar.
Sehubungan dengan itu Paul W. Gumming dalam Nawawi (2006: 56) mengatakan bahwa
wewenang merupakan bentuk khhusus kekuasaan. Kekuasaan dianggap sebagai
kemampuan seseorang untuk membuat kemauannya dipatuhi. Sedang wewenang
merupakan suatu fungsi dari kedudukan yang syah dalam suatu hierarki tertentu.
Dalam menggunakan kekuasaan dan tanggung
jawabnya, pemimpin harus mampu mengatur atau membuat aturan-aturan dan berusaha
menegakkan dan mematuhi aturan-aturan itu. Dalam mempengaruhi orang lain agar
mematuhi aturan-aturan itu, pemimpin harus lebih dahulu menampilkan diri
sebagai anggota organisasi yang kepatuhannya paling prima. Dengan kata lain
pemimpin harus mampu menjadi suri teladan dalam mematuhi peraturan yang dibuat
atas dasar kekuasaan yang pembidangan dan pembagian volume kerja sesuai
struktur organisasi.
2.4
Ciri-ciri Pemimpin yang Baik
Menjadi seorang pemimpin yang ideal merupakan hal
yang tak mudah. Seorang pemimpin dituntut untuk terlihat sempurna tanpa celah
di depan para pengikutnya meskipun pada
kodratnya kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun seorang
pemimpin tak mampu sempurna dalam proses kepemimpinannya, namun ia mampu untuk
menjadi pemimpin yang ideal bagi para pengikutnya. Maksud dari kata ideal yaitu
pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan yang seharusnya ia
lakukan.
Untuk dapat mengidentifikasi ciri-ciri pemimpin yang
ideal ada baiknya kita melihat pendapat yang dikemukakan oleh George R.Terry
dalam Fahmi (2015) yang mengemukakan delapan ciri dari pemimpin, yaitu sebagai berikut:
1.
Energi: mempunyai kekuatan mental dan fisik.
2.
Stabilitas emosi: seorang pemimpin tidak bolehh
berprasangka jelek terhadap bawahannya, ia tidak boleh cepat marah dan percaya
pada diri sendiri harus cukup besar.
3.
Human relationship: mempunyai pengetahuan tentang
hubungan manusia.
4.
Personal motivation: keinginan untuk menjadi
pemimpin harus besar, dan dapat memotivasi diri sendiri.
5.
Communication skill: mempunyai kecakapan untuk
berkomunikasi
6.
Teaching skill: mempunyai kecakapan untuk
menggajarkan, menjelaskan dan mengembangkan bawahannya.
7.
Social skill: mempunyai keahlian di bidang sosial,
supaya terjamin kepercayaan dan kesetaan bawahannya. Ia harus suka menolong,
senang jika bawahannya maju, peramah serta luwes dalam pergaulan.
8.
Technical competent: mempunyai kecakapan
menganalisis, merencanakan, mengorganisasi, mendelegasikan wewenang, mengambil
keputusan fan mampu menyusun konsep.
1.
Pemimpin yang baik mampu menciptakan lingkungan yang
tepat. Cara paling baik untuk memiliki loyalitas personel ialah dengan
memperlihatkan perhatian kepada mereka dengan kata-kata dan perbuatan.
2.
Pemimpin yang baik mengetahui kebutuan dasar
bawahannya.
3.
Pemimpin yang baik mampu mengendalikan keuangan,
personalia, dan perencanaan.
4.
Pemimpin yang baik mampu menghindari tujuh dosa yang
mematikan yaitu:
a.
Berusaha untuk disukai bukan dihormati
b.
Tidak minta nasihat dan bantuan kepada orang lain
c.
Mengesampingkan bakat pribadi dengan menekan
peraturan bukan keahlian
d.
Tidak menjaga untuk dikrtitik tetap konstruktif
e.
Tidak mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri
orang lain
f.
Memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama
g.
Tidak membuat setiap orang selalu mendapat informasi
2.5
Teori Kepemimpinan
Dari sisi teori kepemimpinan, pada dasarnya
teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu, faktor-faktor yang terlibat
dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Dalam
praktiknya teori kepemimpinan cukup menarik karena dapat membantu dalam mendefinisikan dan menentukan
masalah-masalah penelitian. beberapa ahli teori menembangkan pandangan
kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu, tempat dan situasi sesaat.
Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan
menurut Hocking & Boggardus dalam Chaniago (2017: 37) yaitu: ”Kualitas
pemimpin dan kepemiminan yang tergantung kepada situasi kelompok, dan kualitas
individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu
yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama”. Selanjutnya Kartono (2016:
32), mengemukakan bahwa teori kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri
perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar
belakang historis, sebab-musabab timbulnya kepemimpinan, persyaratan menjadi pemimpin,
sifat-sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi
kepemimpinan.
Menurut Pasolong (2015: 88) ada beberapa teori
kepemimpinan, yaitu:
1.
Teori Sifat (Traits Theory)
Teori Sifat (Traits Theory) berasumsi bahwa
seorang yang dilahirkan sebagai pimpinan karena memiliki sifat-sifat sebagai
pemimpin. Namun pandangan teori sifat ini juga tidak memungkinkan bahwa
sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga ficapai
leqat suatu pendidikan dan pengalaman. Teori sifat telah berusaha
menggenaralisasi sifat-sifat yang dimiliki oleh pemimpin seperti fisik, mental
dan kepribadian. Dengan asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan
oleh kualitas sifat atau karakteristik tertentu yang dimiliki atau melekat
dalam diri pemimpin tersebut, baik berhubungan dengan fisik, mental, psikologi,
personalitas dan intelektualitas.
Stoner dalam Pasolong (2015: 89), mengatakan bahwa
ternyata teori sifat gagal membuktikan keandalannya sebab tidak satupun
kombinasi yang secara konsisten dapat membedakan antara pimpinan dan bukan
pemimpin, atau antara pemimpin efektif dan yang tidak efektif.
2.
Teori Kelompok
Teori kelompok beranggapan bahwa kelompok bisa
mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di
antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Penelitian psikologi sosial dapat
digunakan untuk mendukung konsep-konsep peranan dan pertukaran yang diterapkan
dalam kepemimpinan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Barrow dalam
Pasolong (2015: 90) menemukan bahwa produktivitas kelompok mempunyai pengaruh
yang lebih besar terhadap gaya kepmimpinan dibandingkan dengan pengaruh gaya
kepemimpinan terhadap produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para
bawahan dapat mempengaruhi perilaku pemimpin, sebanyak pemimpin beserta
perilakunya mempengaruhi bawahannya.
3.
Teoi Situasional atau Kontigensi
Teori ini berasumsi bahwa kinerja suatu kelopok
tergantung pada interaksi antara gaya kepemimpinan dan kesesuaian antara
situasi (Situasional favorableness). Kepemimpinan dipandang sebagai
hubungan yang didasarkan atas pengaruh dan kekuasaan. Ada dua hal yang perlu
dipertimbangkan dalam teoi ini yaitu ”Bagaimana seorang pemimpin mempunyai
kekuasaan akan menjadi efektif serta faktor-faktor situasi yang sesuai dan
sejauh mana gaya kepemimpinan seseorang mempengaruhi perilaku dan kinerja
bawahan”.
4.
Teori Jalan Kecil-Tujuan (Path Goal Theory) Versi
House
Teori Jalan Kecil-Tujuan berasumsi bahwa dengan
perilaku kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan, dan kinerja para
pengikut. Teori Jalan Kecil-Tujuan versi House, memasukkan empat tipe gaya
utama kepemimpinan yaitu:
a)
Kepemimpinan Direktif, yaitu bawahan tahu dengan
pasti apa yang diharapkan dirinya pengarahan yang khusus dari pemimin
b)
Kepemimpinan yang mendukung (Supportive
Leadership), yaitu pemimpin mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri,
bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian yang tinggi terhadap
bawahannya.
c)
Kepemimpinan partisipatif, yaitu gaya pemimpin yang
berusaha meminta dan menggunakan saran-saran dari bawahannya. Namun keputusan
tetap berada pada pemimpin.
d)
Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil, yaitu
gaya ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya untuk
berpartisipasi. Pemimpin juga memberi keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan
tugas untuk mencapai tujuan secara baik.
5.
Teori Perilaku (Behaviour Theory
Teori perilaku (behaviour theory) dilandasi
pemikiran, bahwa kepemimpinan merupakan interaksi antara pemimpin dengan
pengikut, dan dalam interaksi pengikutlah yang menganalisis dan mempersepsi
apakah menerima atau menolak pengaruh dari pemimpinnya. Pendekatan perilaku
menghasilkan dua orientasi perilaku pemimpin yaitu:
1.
Pemimpin yang berorientasi pada tugas (task
orientation) atau yang mengutamakan penyelesaian tugas. Pemimpin dalam
pendekatan ini menampilkan gaya kepemimpinan otokratik yang mempunyai ciri
seperti menentukan kebijakan untuk anggota, memberi tugas secara instruktif,
mengendalikan secara ketat pelaksanaan tugas, interaksi dengan anggota
terbatas, dan tidak mengembangkan inisiatif bawahan.
2.
Pemimpin yang berorientasi pada orang (people orientation)
atau yang mengutamakan hubungan kemanusiaan. Pemimpin yang berorientasi
pada orang menampilkan gaya kepemimpina demokratis. gaya kepemimpinan
demokratik mendorong bawahan untuk menentukan kebijakan sendiri, memberi
pandangan tentang langkah dan hasil yang diperoleh, memberi kebebasan untuk
memulai tugas, memelihara komunikasi dan interaksi yang luas serta
mengembangkan inisiatif para pengikut.
2.6
Gaya Kepemimpinan
Pada dasarnya gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap
keberhasilan pemimpin dalam mengerakkan para pengikutnya. Setiap pemimpin
memiliki gaya yang berbeda dalam proses kepemimpinannya. Gaya / style yang diterapkan oleh pemimpin biasanya
dipengaruhi oleh keadaan organisasi. Untuk itu tak jarang pemimpin menerapkan
lebih dari 1 style dalam proses kepemimpinannya untuk menunjang
keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan. Berikut akan diuraikan beberapa jenis gaya
kepemimpinan.
1.
Gaya Kepemimpinan Keating (1986)
Keating dalam Pasolong (2015: 38), membagi dua gaya
kepemimpinan yaitu: (1) Kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task
oriented)., (2) Kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (human
relationship oriented). dari dua bidang tugas kepemimpin itu, kemudian
dikembangkan menjadi 4 teori yaitu:
a.
Kekompakan tinggi dan kerja rendah.
Gaya kepemimpinan ini berusaha menjaga hubungan
baik, keakraban dan kekompakan kelompok atau penyelesaian tugas bersama. Inilah
gaya kepemimpinan dalam perkumpulan sosial rekreatif. Dalam
perkumpulan-perkumpulan semacam itu, seperti kelompok rekreasi, paguyuban persahabatan,
sebagian besar perhatian diberikan kepada hubungan antar kelompok, kalau ada,
sedikit dan kadang-kadang saja. Maka gaya ini tidak akan jalan, jika
dipergunakan bagi kelompok yang bertujuan untuk mencapai sesuatu, kelompok yang
harus produktif. Karena tujuan kelompok produktif, bukanlah pertama-tama
keakraban dan kegembiraan bersama, tetapi selesainya tugas, tercapainya tujuan.
b. Kerja
Tinggi Dan Kekompakan Rendah.
Gaya kepemimpinan ini menekankan segi penyelesaian
tugas dan tercapainya tujuan kelompok. Gaya kepemimpinan ini menampilkan gaya
kepemimpinan direktif. Gaya kepemimpinan ini baik untuk kelompok yang baru
dibentuk, yang membutuhkan tujuan dan sasaran jelas, dan kelompok yang telah
kehilangan arah, tidak mempunyai lagi tujuan dan saran, tidak mempunyai
kriteria untuk meninjau lagi hasil kerjanya, yang sudah kacau dan tak berarti
lagi. Karena gaya ini memberi kejelasan tujuan dan sasaran kerja serta
pengawasan yang ketat atas usaha mencapai tujuan dan sasaran itu. Gaya
kepemimpinan yang direktif ini tepat dipergunakan dalam usaha dagang yang penuh
persaingan, situasi gawat dan dikalangan militer.
c. Kerja
Tinggi Dan Kekompakan Tinggi
Gaya kepemimpinan ini merupakan yang menjaga kerja
dan kekompakan kepemimpinan tinggi cocok dipergunakan utntuk membentuk
kelompok. Kelompok yang baru dibentuk membutuhkan kejelasan tujuan dan sasaran,
struktur kerja untuk mencapai tujuan dan sasaran itu, serta usaha untuk membina
hubungan antara para anggota. Waktu menggunakan gaya kepemiminan itu untuk
membentuk kelompok, pemimpin perlu melengkapinya dengan contoh. Pemimpin perlu
menjadi model untuk kelompok dengan menunjukkan perilaku yang membuat kelompok
efektif dan puas.
d. Kerja
Rendah Dan Kekompakan Rendah
Gaya kepemimpinan ini kurang menekankan penyelesaian
tugas dan kekompakan kelompok cocok untuk kelompok yang sudah jelas akan tujuan
dan sasarannya, gamblang akan cara untuk mencapai tujuan dan sasaran itu, dan
mengetahui cara menjaga kehidupan kelompok selama mencapai tujuan dan
sasarannya. Gaya kepemimpinan ini merupakan gaya kepemimpinan yang
menggairahkan untuk kelompok yang sudah jadi. Keputusan untuk mempergunakan
gaya kepemimpinan itu amat tergantung pada sejarah dan keadaan kelompok yang
ada. Apakah kelompok itu memang sudah dan masih mampu menjalankan tugas untuk
mencapai tujuan bersama dan untuk menjaga kekompakan kelompok. Kalau kelompok
memang sudah matang, tugas pemimpin menjadi terbatas dan melengkapi hal-hal
yang belum ditangani kelompok.
2. Gaya
Kepemimpinan House (1997)
House dalam Pasolong (2015: 39),
mengemukakan ada empat gaya kepemimpinan yang perilaku seorang pemimpin yaitu:
1.
Kepemimpinan direktif (directive leadership,) yaitu pemimpin memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk mengetahui apa yang menjadi harapan pemimpinnya dan pemimpin tersebut
menyarakan kepada bawahannya tentang bagaimana dapat melaksanakan suatu tugas.
Gaya ini mengandung arti bahwa pemimpin berorientasi pada hasil.
2.
Kepemimpinan partisipatif (participative
leadership), yaitu pemimpin berkomunikasi dengan bawahannya dan
bertanya untuk mendapatkan masukan-masukan atau saran-saran dalam rangka
pegambil keputusan.
3.
Kepemimipnan suportif (supportive leadership), yaitu
usaha pemimpin unruk menekankan diri dan bersikap ramah serta menyenangkan
bawahannya.
4.
Kepemimpinan berorientasi pada prestasi (achievement
oriented leadership) pemimpin menetapkan tujuan-tujuan yang bersifat
menantang: pemimpin tersebut mengharapkan agar bawahan berusaha mencapai tujuan
tersebut secara efektif, serta pemimpin menunjukkan rasa percaya diri kepada
bawahannya bahwa mereka akan memenuhi tuntutan bawahannya.
3. Gaya
Kepemimpinan Kontinum Robert Tannembaun dan Waren H. Schmidth
Tannembaum dan Schmidt dalam Mulyadi (2015: 163)
mengembangkan model kepemimpinan berbagi kebebasan menggunakan kekuasaan. Model
ini disusun dengan asumsi bahwa kepemimpinan merupakan proses interaksi
kekuasann antara pemmpin dan para pengikutnya. Hubungan tersebut didasarkan
pada tinggi rendahnya kebebasan penggunaan kekuasaan oleh pemimpin dan tinggi
rendahnya kebebasan pengikut untuk menggunakan kekuasaannya dalam interaksi
kepemimpinan.
Kebebasan mempergunakan kekuasaan diaplikasikan oleh
pemimpin dan para pengikutnya untuk berinisiatif, mengembangkan dan menggunakan
kreativitas dan inovasi, mengambil keputusan, menggunakan teknik mempengaruhi,
dan menyusun pola komunikasi.
4. Gaya
Kepemimpinan Tiga Dimensi Reddin
Reddin dalam Pasolong (2016: 43), menggambarkan
efektivitas kepemimpinan dalam 3 hal pokok (tiga kotak), oleh sebab itu
pendekatannya disebut model 3 dimensi. kotak yang ditengah merupakan dasar
pemimpin seperti halnya penemuan Ohio. Dari kotak yang ditengah ditarik ke atas
dan ke bawah yang melukiskan sebagai gaya efektif dan tidak efektif.
Gaya efektif berada di kotak atas yang terdiri atas
empat gaya yaitu gaya eksekutif, pecinta pengembangan (developer),
otokratis yang baik (benevolent autocrat), dan birokrat.
Sedangkan gaya yang tidak efektif berada pada kotak bawah yang juga terdiri
atas empat gaya, yaitu pecinta kompromi (compromiser), misionari
(missionary), gaya otokrat dan gaya lari dari tugas (deserter).
1.
Gaya eksekutif, yaitu pemimpin banyak memberikan
perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Pemimin yang memakai
gaya ini disebut motivator yang baik, mau dan mampu menetapkan standar kerja
yang tinggi, mau mengenal perbedaan karakteristik individu, mau menggunakan
kerja tim dalam manajemen.
2.
Gaya pecinta pegembangan, yaitu pemimpin meeberikan
perhatian maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Pemimpin
yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan implisit terhadap orang-orang
yang bekerja dalam birokrasi dan sangat memperhatikan pengembangan individu.
3.
Gaya otokratis yang baik hati, yaitu pemimpin
memberikan perhatian yang maksimal pada tugas dan minimal pada hubunhan kerja.
Pemimpin yang menggunakan gaya ini mengetahui secara tepat yang diinginkan dan
cara mencapainya tanpa menyebabkan keengganan pihak bawahannya.
4.
Gaya birokrat, yaitu pemimpin memberikan yang
maksimal pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin yang menggunakan gaya ini
sangat tertarik kepada aturan-aturan dan mengontrol pelaksanaanya secara
teliti.
5.
Gaya pecinta kompromi, yaitu pemimpin memberikan
perhatian yang besar pada tugas pekerjaan dan hubungan kerja berdasarkan
kompromi. Pemimpin yang menggunakan gaya ini merupakan pembuat keputusan yang
jelek / kurang baik karena banyak tekanan bawahan yang mempengaruhinya.
6.
Gaya Missionari, yaitu pemimpin memperhatikan
maksimal pada hubungan kerja dan minimal terhadap tugas. Maksimal yang
menggunakan gaya ini hanya menilai keharmonisan sebagai tujuan dirinya sendiri.
7.
Gaya Otokrat, yaitu pemimpin memberikan perhatian
yang maksimal pada tugas dan minimal pada hubungan kerja. Pemimpin yang
menggunakan gaya ini tidak percaya pada orang lain, tidak menyenangkan, dan
hanya tertarik pada pekerjaan yang cepat dan selesai.
8.
Gaya lari dari tugas, yaitu pemimpin sama sekali
tidak memberikan perhatian pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin yang
menggunakan gaya ini tidak peduli pada tugas dan orang lain.
5. Gaya
Kepemimpinan Lippit & White (1960)
Gaya kepemimpinan yang dikembangkan oleh Lippit
& White dalam Pasolong (2015: 46) membahas berbagai hubungan antara
perilaku pemimpin yang berbeda, yaitu perilaku otoriter, demokratis, dan Laissez
Faire.
1.
Gaya Otokratis, yaitu gaya kepemimpinan otoritarian dapat
pula disebut tukang cerita. Pemimpin otokratis biasanya merasa cenderung
mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam bentuk perintah-perintah
langsung kepada bawahan.
2.
Gaya Demokratik, yaitu gaya kepemimpinan yang
dikenal pula sebagai gaya partisipatif. Gaya ini berasumsi bahwa para anggota
organisasi yang ambil bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan
akan lebih memungkinkan sebagai suatu akibat mempunyai komitmen yang jauh lebih
besar pada sasaran dan tujuan organisasi. ”Pendekatan tidak berarti para
pemimpin tidak membuat keputusan, tetapi justru seharusnya memahami terlebih
dahulu apakah yang menjadi sasaran organisasi sehingga mereka dapat
mempergunakan pengetahuan para anggotanya”. Sudriamunawar dalam Pasolong (2015:
47).
3.
Gaya Laissez Faire yaitu gaya kepemimpinan
kendali bebas. Pendekatan ini bukan berarti bahwa tidak adanya sama sekali
piminan. Gaya ini berasumsi bahwa suatu tugas disajikan kepada kelompok yang
biasanya menentukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai tujuan tersebut
dalam rangka mencapai sasaran-sasaran dan kebijakan organisasi.
2.7
Kepemimpinan Pelayanan
Kepemimpinan yang melayani,
bermula dalam karya tulis Greenleaf (1970, 1972, 1977), telah menjadi minat
pakar kepemiminan untuk lebih dari 40 tahun. Hingga baru-baru ini, sedikit
penelitian empiris tentang kepemimpinan yang melayani telah muncul dalam jurnal
terkenal di mana artikel harus dibaca terlebih dulu oleh pembaca ahli. ”Kepemimpinan
yang melayani menekankan bahwa pemimpin perhatian pada masalah pengikut mereka,
empati dengan mereka, serta mengembangkan mereka” (Northouse, 2013). Pemimpin yang melayani lebih
mengutamakan pada kepentingan para pengikut serta selalu berupaya dalam proses
pengembangan kepribadian yang mengarah pada keberhasilan para pengikutnya.
Greenlleaf dalam Northouse (2013: 209) menyatakan bahwa kepemimpinan yang melayani dimulai
dengan perasaan alamiah bahwa kita ingin melayani lebih dulu. Yukl (2017: 473),
menjelaskan bahwa ”Kepemimpinan melayani ini harus memberdayakan para pengikut
bukannya menggunakan kekuasaan untuk medominasi mereka”. Pemimpin yang melayani
2.8
Esensi, Prinsip dan Karakteristik Kepemimpinan
Pelayanan
2.8.1
Esensi Kepemimpinan Pelayanan
Lantu dalam Pasolong (2015:
65), menyatakan bahwa esensi kepemimpinan pelayanan terletak pada bagaimana
mengembangkan pihak lain (pengikut, komunitas internal dann eksternal), bukan
untuk mementingkan diri sendiri. Selanjutnya Russel & Stone dalam Pasolong
(2015: 66), menjelaskan bahwa tujuan utama dari seorang pemimpin pelayanan
adalah melayani dan memenuhi kebutuhan pihak lain, yang secara optimal
seharusnya menjadi motivasi utama kepemimpinan. Kepemimpinan pelayanan
merupakan suatu gaya kepemimpinan yang lebih memfokuskan pada kesejahteraan dan
pengembangan para pengikutnya.
2.8.2
Prinsip Kepemimpinan Pelayanan
Ada
beberapa prinsip utama dari kepemimpinan pelayan yang perlu dieksplorasi secara
individual untuk menyajikan gambaran yang lebih lengkap dari kerangka konsep
kepemimpinan pelayan. Berikut empat prinsip utama kepemimpinan pelayanan
menurut Smith dalam Iswanto (2017: 165).
1. Layanan
untuk pihak lain.
Kepemimpinan pelayan
dimulai ketika seorang pemimpin beranggapan bahwa posisinya memberikan layanan
dalam interaksinya dengan pengikutnya. Kepemimpinan otentik atau
legitimasi muncul bukan dari pelaksanaan
kekuasaan atau tindakan interes pribadi, tetapi dari keinginan mendasar untuk
pertamatama membantu pihak lain. Menurut Greenleaf bahwa "fakta sederhana
ini adalah kunci untuk kebesaran seorang pemimpin". Motivasi dan tujuan
utama seorang pemimpin pelayan adalah
untuk mendorong orang lain menjadi besar, sedangkan keberhasilan organisasi
merupakan turunan secara tidak langsung dari kepemimpinan pelayan.
2. Pendekatan
holistik untuk bekerja
Kepemimpinan pelayan
menyatakan bahwa "Pekerjaan yang ada untuk orang adalah sebanyak orang yang ada untuk
pekerjaan". Hal ini menantang
organisasi untuk memikirkan kembali hubungan yang ada antara orang,
organisasi, dan masyarakat secara
keseluruhan. Teori ini memajukan suatu pandangan bahwa individu harus didorong
menjadi diri mereka sendiri, baik dalam
profesi mereka maupun dalam kehidupan
pribadi. Dengan lebih personal dan
penilaian terpadu secara individu pada akhirnya akan menguntungkan
kepentingan jangka panjang dan kinerja organisasi.
3. Memajukan
rasa berkomunitas.
Kepemimpinan pelayan
mempertanyakan kemampuan lembaga untuk memberikan pelayanan kepada manusia dan
berpendapat bahwa hanya masyarakat, yang didefinisikan sebagai kelompok
individu yang secara bersama-sama saling bertanggung jawab untuk satu sama
lain, baik secara individu maupun sebagai satu kesatuan unit yang dapat
melakukan fungsi tersebut. Hanya dengan membentuk rasa komunitas di antara
pengikut maka organisasi akan dapat berhasil dalam tujuannya. Selanjutnya,
menurut teori ini bahwa rasa komunitas akan dapat timbul hanya dari tindakan
individu seorang pemimpin pelayan.
4. Berbagi kekuasaan dalam pengambilan keputusan.
Kepemimpinan pelayan
efektif merupakan bukti terbaik melalui
penanaman kepemimpinan pelayan pada pihak lain. Dengan memelihara
keikutsertaan, pemberdayaan lingkungan, dan mendorong bakat para pengikut,
pemimpin pelayan menciptakan lebih efektif tenaga kerja termotivasi dan
akhirnya organisasi yang lebih sukses. Seperti diutarakan oleh Russel dalam
Iswanto (2017: 166), "Pemimpin memungkinkan orang lain untuk bertindak
bukan dengan penimbunan kekuasaan yang mereka miliki, tetapi dengan
memberikannya kepada orang lain".
Struktur organisasi yang dihasilkan dari kepemimpinan pelayan kadang-kadang disebut sebagai "piramida
terbalik", dengan karyawan, klien dan pemangku kepentingan lainnya di
bagian atas, dan pemimpin di bagian bawah.
2.8.3
Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan
Karakteristik Kepemimpinan Pelayanan menurut Laub
dalam Pasolong (2015: 66), terdapat enam poin yaitu sebagai berikut.
1.
Menghargai orang lain, yaitu dengan cara
mendengarkan secara intens, melayani kebutuhan pihak lain sebagai prioritas
utama, dan mempercayai orang lain.
2.
Mengembangkan orang lain, yaitu dengan memberikan
kesempatan kepada pengikut untuk terus belajar, memberikan keteladanan, dan
memberdayakan pihak lain.
3.
Membangun komunitas, yaitu membangun hubungan yang
kuat, kolaborasi serta menghargai perbedaan dan latar belakang individu.
4.
Memperlihatkan autentitas, yaitu melalui integritas
dan sistem kepercayaan, dan pertanggungjawaban serta adanya keinginan untuk
belajar dari orang lain.
5.
Memberikan kepemimpinan, yaitu dengan cara
penggambaran masa depan, mengambil inisiatif, dan mengklarifikasikan
tujuan-tujuan yang ada.
6.
Pendistribusian kekuasaan serta status kepemimpinan,
yaitu melalui perilaku pencapaian visi bersama, penyebaran kekuasaan dalam
pengambilan keputusan dan status untuk semua level dalam organisasi.
Selanjutnya Patterson dalam Pasolong (2015: 66)
mengelompokkan tujuh karakteristik kepemimpinan pelayanan yang akan diuraikan
dibawah ini.
1.
Cinta Agape (Aggapao love), yaitu cinta kasih
moral pemimpin dengan melakukan sesuatu yang baik dengan alasan yang benar pada
saat yang tepat.
2.
Rendah hati (humility), yaitu kmampuan
seseorang intuk menjaga keseimbangan antar kemampuan yang dimiliki serta
kesadran bahwa apa yang telah dicapai dapat terjadi oleh karena sumbangsih
pengikutnya, bukan karena dirinya sendiri.
3.
Altruisme (Altruism), yaitu suatu tindakan
membantu orang lain secara tulus.
4.
Memiliki visi (vision), yaitu membanbun visi
organisasi melalui visi-visi personal pada pengikutnya secara agregasi
5.
Rasa percaya (Trust), yaitu mereka percaya
bahwa bekerja dalam organisasi tersebut dengan seorang pemimpin pelayan akan
mengarahkan mereka pada tercapainya visi pribadi mereka sendiri.
6.
Memberdayakan pihak lain (Empowerment), yaitu
mempercayakan kekuasaan kepada pihak lain kemudian menyatakannya, oleh karena
itu pemimpin pelayan akan mendengarkan dan berempati pada pengikutnya.
7.
Melayani (Service), yaitu inti dari
kepemimpinan pelayan, oleh karena pelayanan harus menjadi fungsi utama dari
kepemimpinan, bukan berdasar pada kepentingan pribadi tetapi lebih mengarahkan
kepada kepentingan orang lain.
2.9
Kerangka Konseptual
Pada dasarnya kepemimpinan pelayanan merupakan gaya
kepemimpinan yang berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan para
pengikut. Pemimpin yang melayani mempunyai kewajiban untuk selalu mendengarkan
para pengikutnya, memahami setiap keluhan serta memberi alternatif penyelesaian
terhadap masalah yang mereka hadapi.
Untuk lebih jelasnya penulis menggambarkan kerangka
konseptual Kepemimpinan Pelayanan General Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi
sebagai berikut.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
penelitian yaitu pada kantor PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi yang terletak di
Jl. Urip Sumoharjo No. Km7, Tello Baru, Kec. Panakkukang, Kota Makassar,
Sulawesi Selatan. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari selama satu
bulan.
3.2
Tipe Penelitian
Tipe
penelitian yang digunakan adalah tipe deskriptif yaitu memberikan gambaran
secara jelas mengenai gaya kepemimpinan General Manager PT PLN (Persero) UIKL
Sulawesi. Penelitian ini berfokus pada penyelidikan terhadap satu variabel
mandiri tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang
lainnya.
3.3
Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi
yaitu wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai
jumlah dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dianalisis dan kemudian ditarik kesimpulannya Sugiyono (2017: 90). Adapun
populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh karyawan yang ada pada kantor PT
PLN (Persero) UIKL Sulawesi. Populasi yang terdapat pada kantor PT PLN
(Persero) UIKL Sulawesi sebanyak 103 orang.
3.3.2 Sampel
Pasolong
(2020: 101) berpendapat bahwa sampel adalah sebagian dari kuantitas populasi
yang mencerminkan dari keseluruhan populasi. Sedangkan Sugiyono (2017: 91),
mengungkapkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik
stratified random sampling, yaitu suatu teknik panarikan sampel yang
digunakan apabila anggota populasi yang tidak homogen dan berstrata, Pasolong
(2020: 104). Dari 103 populasi, di ambil sampel sebanyak 78 orang karyawan PT
PLN (Persero) UIKL Sulawesi dari hasil perhitungan menggunakan tabel Isaac dan
Michael dengan margin error 5%.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu observasi, kuesioner
dan wawancara.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan yang
dirumuskan oleh Pasolong (2020: 13), merupakan teknik (cara) yang pertama kali
digunakan dalam penelitian ilmiah. Kegiatan penelitian ilmiah pada awalnya
ditujukan untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan tentang lingkungan
manusia, sesudah itulah penelitian ilmiah diterapkan untuk memperoleh
pengetahuan ilmiah tentang kegiatan manusia dalam hubungannya satu sama lain,
termasuk masalah yang ditimbulkannya.
2. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2016: 162)
“Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Sedangkan menurut
Pasolong (2020: 141), “Kuesioner adalah suatu pengumpulan data melalui daftar
pertanyaan yang diisi oleh responden itu sendiri”. Dalam teknik kuesioner,
responden mempunyai peranan penting dalam memperoleh data yang dibutuhkan.
Tujuan penggunaan kuesioner dalam suatu penelitian ada dua, yaitu untuk memperoleh
informasi dengan validitas dan reliabilitas yang setinggi mungkin.
3. Wawancara
Pasolong (2020: 137), mengemukakan
bahwa “wawancara merupakan kegiatan tanya jawab antara dua orang atau lebih
secara langsung”. Pewawancara disebut interviewer, sedangkan orang yang
diwawancarai disebut interviewee. Selanjutnya Sugiyono (2017: 157),
menyatakan bahwa “wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang
harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari
responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil”. Lebih
lanjut ia menuliskan bahwa wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun
tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face)
maupun dengan menggunakan telepon. Wawancara yang akan dilakukan pada kantor
PLN UIKL (Sulawesi) bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat serta
relevan dengan topik yang akan dibahas pada bab selanjutnya.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif yang diukur
dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Jawaban kuesioner menggunakan skala
likert yang merupakan pengukuran sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2017: 107). Pengukuran data
dengan menggunakan skala likert ditujukan untuk mengidentifikasi apakah General
Manager PT PLN (Persero) UIKL Sulawesi menerapkan gaya kepemimpinan pelayanan.
Berikut
adalah tabel distribusi frekuensi menggunakan skala likert terkait dengan
pemberian skor pada setiap jawaban responden.
Tabel 3.1 Kategori dan
Skor Skala Likert
|
No. |
Tanggapan Responden |
Skor |
|
1 |
Sangat baik |
5 |
|
2 |
Baik |
4 |
|
3 |
Ragu-ragu |
3 |
|
4 |
Tidak baik |
2 |
|
5 |
Sangat tidak baik |
1 |
Sumber: Metode Penelitan Administrasi Publik (Pasolong:
2020, 153)
3.6
Definisi Operasional
Menurut Pasolong (2020: 86), bahwa ”Definisi
operasional merupakan suatu pernyataan dalam bentuk yang khusus dan merupakan
kriteria yang bisa diuji secara empiris”. Berikut akan dijabarkan indikator
keberhasilan pemimpin pelayan dalam proses kepemimpinannya.
1.
Mendengarkan
Dalam menjalankan proses kepemimpinannya, seorang pemimpin pelayan selalu
membangun komunikasi yang baik dengan para pengikut secara interaktif. Pemimpin
yang melayani mendengarkan keluhan serta ide-ide yang dikemukan oleh pengikut
kemudian mempertimbangkannya dalam penentuan kebijakan yang akan diambil. Hal
tersebut dilakukan agar pengikut merasa dihargai kehadiran serta aspirasinya
dalam pengembangan organisasi atau perusahaan kedepannya.
2.
Empati
Pemimpin yang melayani menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami apa
yang dipikirkan dan dirasakan pengikut. Ketika pemimpin yang melayani
menunjukkan empati, hal itu menenangkan dan meyakinkan pengikut bahwa pemimpin benar-benar
peduli terhadap apa yang mereka rasakan.
3.
Menyembuhkan
Menyembuhkan berarti membuat sehat
dalam artian pemimpin yang melayani peduli dengan keadaan para
pengikutnya. Mereka mendukung pengikut dengan membantu mereka mengatasi masalah
pribadi. Greenleaf menyatakan bahwa proses penyembuhan adalah jalan dua arah:
dengan membantu pengikut menjadi sehat, pemimpin yang melayani itu sendiri menjadi
sembuh.
4.
Perhatian
Perhatian merupakan suatu sikap yang muncul dari dalam diri seorang
pemimpin yang melayani untuk memahami setiap permasalahan yang terjadi di
lingkungan sekitarnya. Permasalahan yang dimaksud bukan hanya masalah-masalah
besar, akan tetapi juga masalah-masalah kecil yang dihadapi oleh para
pengikutnya.
5.
Persuasi
Persuasi adalah komunikasi yang jelas dan ulet yang meyakinkan orang lain
untuk berubah. Persuasi menciptakan perubahan dengan menggunakan argumen non
penilaian yang lembut. Menurut Spears
dalam Northouse (2013: 210), penekanan Greenleaf pada persuasi atas paksaan
mungkin terkait dengan hubungan yang bernili dengan Religious Society of
Friends (Quakers).
6.
Konseptualisasi
Konseptualisasi merujuk pada kemampuan individu untuk menjadi orang yang
memiliki pandangan jauh ke depan bagi keberlangsungan suatu organisasi, dan
memberi pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah. Dengan konseptualisasi, seorang
pemimpin mampu menciptakan ide kreatif dalam menanggapi permasalahan yang
terjadi dalam organisasi.
7.
Peramalan
Peramalan meliputi kemampuan pemimpin yang melayani untuk mengetahui masa
depan. Ini adalah kemampuan untuk menduga hal apa yang akan terjadi berdasarkan
pada apa yang terjadi di masa sekarang dan apa yang terjadi di masa lampau. Dengan
menganalisis permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan apa yang terjadi
pada masa sekarang, tentunya seorang pemimpin yang melayani sudah memiliki
gambaran besar serta langkah antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang akan
terjadi di masa depan..
8.
Tugas untuk mengurus
Tugas untuk mengurus itu adalah tentang memiliki tanggung jawab untuk
peran yang dipercayakan kepada pemimpin. Pemimpin yang melayani menerima
tanggung jawab untuk mengelola secara hati-hati orang dan organisasi yang
mereka pimpin.
9.
Komitmen untuk pertumbuhan orang-orang
Menurut Greenleaf dalam Northouse (2013: 120) bahwa ”Kepemimpinan pelayan
menempatkan suatu nilai ekstra pada memperlakukan setiap karyawan sebagai orang
yang unik dengan nilai intrinsik yang lebih, dari kontribusi mereka untuk
organisasi”. Pemimpin yang melayani memiliki komitmen untuk membantu setiap
orang di dalam organisasi agar bisa tumbuh, baik secara pribadi maupun
professional. Komitmen bisa memiliki banyak bentuk, termasuk menyediakan bagi
pengikut peluang pengembangan karier seperti, membantu mereka mengembangkan
keterampilan kerja baru seperti dengan melakukan promosi karyawan yang memiliki
kemampuan serta pengalaman yang baik selama bekerja. Dengan melakukan hal yang
demikian, tentunya para pengikut akan lebih bersemangat dalam melakukan
pekerjaanya karena kerja keras yang ia lakukan sangat dihargai oleh pimpinan.
10.
Membangun komunitas
Pemimpin yang melayani membangun komunitas untuk menyediakan tempat
dimana orang bisa merasa aman dan terhubung dengan orang lain, tetapi tetap diperkenankan
untuk mengekspresikan individualitas mereka. Dengan adanya komunitas ini
individu tidak hanya memiliki tempat untuk menunjukkan kemampuan yang ia miliki
tetapi juga ia bisa mengembangkannya dengan berbagi pengalaman dengan
orang-orang yang berada dalam komunitas tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Badu, Syamsu Q dan Novianty Djafri.
2017. Kepemimpinan dan Perilaku Organisai. Gorontalo: Ideas Publishing.
Chaniago, Aspizain. 2017. Pemimpin
dan Kepemimpinan. Jakarta Pusat: Lentera Ilmu Cendekia.
Danim, Sudarwan. 2004. Motivasi
Kepemimpinan & Efektivitas Kelompok. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Fahmi,
Irham. 2017. Pengantar Ilmu Kepemimpinan. Depok: PT RajaGrafindo Persada
Hariri dkk. 2017. Evolusi Pendekatan
Teori Kepemimpinan Menuju Kepemimpinan Efektif. Yogyakarta: Expert.
Iswanto, Yun. 2017. “Jurnal Administrasi
Kantor”. Kepemimpinan Pelayan Era Modern. (www.ejournal-binainsani.ac.id, diakses
pada 18 Desember 2020).
Kartono, Kartini. 2016. Pemimpin
dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali Pers.
Mulyadi,
Deddy. 2015. Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan Pelayanan. Bandung:
Alfabeta.
Nawawi, Hadari. 2006. Kepemimpinan
Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Northouse, Peter G. 2013. Kepemimpinan:
Teori dan Praktik. Jakarta Barat: Permata Puri Media.
Pasolong, Harbani. 2015. Kepemimpinan
Birokrasi. Bandung: Alfabeta.
…………………., 2020. Metode Penelitian
Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta.
Rukmana,
D.W., Nana. 2017. Kepemimpinan Perspektif Agama dan Moral. Bandung:
Alfabeta.
Soekarso
dkk. 2010. Teori Kepemimpinan. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Administrasi. Bandung:
Alfabeta.
Sutarto.
2017. Dasar – Dasar Kepemimpinan Administrasi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Yukl, Gary. 2017. Kepemimpinan
dalamOrganisasi, Edisi Ketujuh. Jakarta Barat. Permata Puri Media.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar